DI ATAS MATA PISAU, PERSPEKTIF BAGI EKONOMI DUNIA

By Alan dan Ted Grant

Pengantar
“Pulihnya Asia secara mencengangkan” –kepala berita semacam ini mulai bermunculan di koran dalam beberapa bulan terakhir. Rupanya, setelah diguncang dampak crash pasar modal di tahun 1997, kini mereka dengan penuh cemas mencari tanda-tanda kebangkitan kembali di Asia dan Eropa sebagai bukti bahwa dunia telah terhindar dari resesi. Sekali lagi para pendukung apa yang disebut Paradigma Ekonomi Baru memproklamirkan kejayaan pasar bebas. Namun demikian, kejayaan seperti itu tidak mempunyai dasar ilmiah. Para perwakilan modal yang serius mencermati prospek ekonomi dunia dengan keprihatinan yang terus meningkat.
Mari kita mulai dengan pemulihan di Asia. Klaim-klaim tentang pemulihan ini jelas dibesar-besarkan dan tidak mampu menjelaskan fakta bahwa dua (kekuataan) ekonomi di kawasan tersebut mengalami krisis yang mendalam. Tentang harapan kaum borjuis yang berlebih-lebihan mengenai pemulihan di Asia, Stratfor memberi ulasan yang lebih tajam dari biasanya:
“Asia memang membaik. Namun demikian, keadaan itu bisa malah makin memburuk. Bagaimanapun, dalam pandangan kami, kita tengah mengalami dua fenomena. Pertama, kita menyaksikan kenaikan siklis dalam suatu penurunan jangka panjang. Tidak ada yang bergerak dalam garis lurus dan peningkatan dalam depresi umum Asia adalah hal yang tak terhindarkan, seperti juga peningkatan pada depresi Amerika di tahun 1930-an. Netapapun, negara-negara kunci di Asia seperti Jepang dan Cina setahun belakangan ini telah gagal memecahkan masalah-masalah struktural mereka. Masalah-masalah struktural yang mendalam tersebut dengan keras membatasi kemampuan pembentukan modal mereka, dalam hal bahwa tiap kenaikan menciptakan uang yang digunakan untuk meringankan masalah utang jangka pendek, tanpa menciptakan modal jangka panjang.” (Stratfor Weekly Analysis, July 6, 1999)
Dengan kata lain, apa yang kita saksikan di Asia bukanlah awal dari pemulihan abadi, namun hanya kenaikan sementara yang bisa diamati dalam turunnya ekonomi. Krisis di Asia, sebagaimana akan kita lihat, sama sekali belum selesai. Namun kelanjutan dari boom di Amerika Serikat memiliki arti bahwa dampak darinya akan ini lebih panjang dari yang pernah diharapkan. Hanya inilah satu-satunya (kekuatan ekonomi) yang muncul di dunia saat ini. Namun justru inilah yang membuat kuatir para ahli strategi Kapital.
Bagaimana menjelaskan pemulihan parsial sekurangnya beberapa ekonomi negara Asia? Pernyataan bahwa ekonomi kapitalis bergerak dalam fluktuasi tanpa henti tak perlu dikomentari secara khusus. Bahkan kemerosotan yang paling dalam pun akan diikuti oleh kenaikan di saat tertentu. Maka tidaklah mengherankan bahwa setelah krisis musim panas 1997, ekonomi beberapa negara Asia menunjukkan tanda-tanda pemulihan parsial. Sepanjang ekonomi Amerika tetap tumbuh dan menyerap ekspor luar negeri, ekonomi Asia berpeluang untuk mengekspor surplus komoditi tak terjual mereka, proses yang sangat ditolong oleh devaluasi mata uang mereka yang membuat ekspor mereka lebih murah daripada sebelumnya.
Elemen lain dalam persamaan ini adalah apa yang disebut kaum Marxis sebagai hukum perkembangan gabungan dan tak seimbang. Dari jauh-jauh hari lalu Marx dan Engels sudah menjelaskan bahwa kapitalisme berkembang sebagai pasar dunia. Ramalan brilyan ini sekarang ditunjukkan oleh fenomena globalisasi. Namun ini tidak berarti bahwa ketimpangan kapitalisme dihapuskan, atau kenaikan atau kemerosotan terjadi secara simultan di seluruh ekonomi dunia. Kapitalisme tidak berkembang dalam waktu bersamaan dan dengan cara yang sama di semua bagian dunia. Siklus ekonomi juga tidak terjadi dengan mulus dan lancar di semua bagian ekonomi dunia. Malah sebaliknya. Ciri kapitalisme yang paling menonjol adalah anarki kekuatan produktif. Ini tetap benar walaupun ada dominasi monopoli-monopoli besar, intervensi IMF dan Bank Sentral dan fenomena globalisasi yang banyak disebut.
Bahkan di masa transaksi finansial dan ekonomi terjadi dengan kompurisasi teknologi tinggi, proses-proses ini memerlukan waktu untuk melapangkan jalannya lewat ekonomi dunia. Memakan waktu satu tahun bagi devaluasi mata uang Thai untuk mencapai Rusia. Rusia gagal membayar utangnya bulan Agustus 1998. Kemudian, devaluasi di Brazil terjadi Januari 1999 -satu setengah tahun kemudian. Di Asia sendiri, efeknya lebih langsung, mendorong terjadinya kolaps yang satu menyusul yang lain, dan menimbulkan pergolakan kelas di Korea Selatan, krisis politik serius di Malaysia, dan lebih dari semua itu mulainya revolusi di Indonesia.
Proses mendalam yang mempengaruhi ekonomi dunia butuh waktu untuk muncul. Efek kemerosotan di America di tahun 1929 butuh waktu untuk mencapai Eropa. Ekonomi Prancis, yang relatif terbelakang, mulai mengalami kemerosotan tiga atau empat tahun kemudian, ketika Amerika sudah mulai bangun dari krisis. Ketidakseimbangan tersebut terlihat dalam setiap krisis kapitalis, dan krisis yang sekarang ini terjadi bukanlah pengecualian. Fenomena pembangunan tak seimbang, yang dulu sudah dijelaskan Marx dan Lenin, juga dipahami oleh beberapa ahli ekonomi borjuis. Dengan demikian, Stratfor dengan tepat menunjukkan bahwa adalah keliru untuk berbicara tentang “Asia” seakan-akan sebagai entitas ekonomi homogen yang tunggal:
“Fenomena kedua yang kita saksikan di Asia adalah diferensiasi antar negara. Tidak lagi masuk akal untuk berpikir tentang Asia sebagai entitas tunggal ketika membicarakan ekonomi. Sebelumnya mungkin bisa dimengerti, paling tidak dalam pengertian bahwa hampir semua bangsa Asia menuju arah naik yang sama. Kini, mereka bahkan tidak mempunyai satu arah umum yang sama. Beberapa kelihatannya benar-benar membaik, seperti Korea Selatan. Yang lain bergerak ke pinggir. Beberapa yang lain masih terbenam. Namun, dalam pandangan kami, yang paling penting adalah dua mesin Asia, yaitu Jepang dan Cina, kendati adanya peningkatan pasar modal akhir-akhir ini dan angka-angka ekonomi yang menjanjikan, tidak akan bergerak maju tanpa restrukturisasi internal besar-besaran, yang belum terlaksana. Mereka masih terjebak dalam masalah-masalah struktural yang pada mulanya menyebabkan masalah (kemerosotan) tersebut dan, karena mereka adalah pusat tenaga Asia, trend umum akan mengikuti kesuanya walaupun terdapat perbedaan masing-masing negara. Dalam pandangan kami, trend tersebut masih menurun. Dengan demikian, tuntutan Asia akan meningkat, namun tidak jelas bahwa tuntutan ini akan meningkat secara dramatis atau akan meningkat secara permanen.” (Stratfor Weekly Analysis, July 6, 1999).
Kendati terjadi semua kegegeran tentang pulihnya Asia, posisi sebenarnya tidaklah seoptimistik sebagaimana yang diinginkan para propagandis pasar untuk kita percayai. Pemulihan parsial Korea Selatan dan beberapa ekonomi Asia tidak berarti bahwa mereka telah kembali pada jaman kejayaan “Macan Asia.” Pemulihan ini sangat lemah bila dibandingkan dengan masa lalu. Mereka bahkan belum bisa menutup merosotnya produksi dalam dua tahun terakhir. Ekonomi-ekonomi Asia Timur masih beroperasi di bawah kapasitasnya. Pengangguran masih tetap tinggi dan barang-barang yang tidak terjual masih bertumpuk. Pemulihan ini bahkan jauh dari menjanjikan. Kemerosotan di Amerika –atau bahkan devaluasi mata uang Cina– akan melempar seluruh kawasan ke dalam kekacauan baru yang bahkan lebih dalam.
Walaupun terjadi pertumbuhan di Korea Selatan, Thailand dan Malaysia (bahkan juga di Indonesia dalam derajad yang lebih rendah) pada paruh pertama tahun ini, dua ekonomi kekuatan utama Asia &endash;Jepang dan Cina–masih terjerat dalam berbagai kontradiksi tak terpecahkan. Namun tanpa kenaikan serius dan langgeng dari dua ekonomi ini, masa depan Asia masih tetap diselimuti oleh ketidakpastian dan tergantung pada setiap gejolak ekonomi dunia, terutama Amerika Serikat. Inilah satu-satunya yang menyebabkan terjadinya pemulihan saat ini –lemah. Dan hal ini tidak akan berlangsung lama.
Krisis Overproduksi
Krisis di Asia adalah krisis klasik overproduksi. Dalam terbitannya 20 Februari 1999, The Economist menulis:
“Berkat over-investasi besar-besaran, khususnya di Asia, dunia kita terbenam dalam chip-chip komputer, baja, mobil, tekstil, kapal, dan bhan-bahan kimia. Sebagai contoh, setidaknya sudah terhitung 30 persen kapasitas Industri mobil yang tidak digunakan di seluruh dunia, namun pabrik-pabrik baru di Asia masih bermunculan.”
Berbagai ketidakpastian prospek Asia ditangkap oleh para komentator borjuis yang paling serius. The Economists (21/8/99) berkomentar:
“Resiko yang jelas dari pemulihan ini datang dari luar Asia Tenggara. Karena kekacauan ekonomi Jepang telah membantu memberikan permintaan segala hal dari barang-barang elektronik, jasa turis, hingga timber, pembalikan akan berarti berita buruk. Jika Cina, yang tetap tumbuh dalam kemerosotan, mengalami krisisnya sendiri, dibarengi dengan devaluasi tajam mata uangnya, Yuan, setidaknya kepercayaan regional akan memukulnya. Jika ekonomi Amerika–khususnya permintaan barang elektronik–berubah-ubah, hal ini juga akan memberikan pukulan yang berat. Lalu akan timbul malapetaka keuangan yang mungkin disebabkan oleh kolapsnya Wall Street.”
Pandangan pesimistik ini juga dimiliki oleh para ahli strategi Kapital yang lain. Dalam ramalannya kuartal ke tiga (26/7/1999) Stratfor menggarisbawahi hal ini:
“Dalam beberapa minggu terakhir, media-media besar telah mengumumkan akhir dari melelehnya ekonomi Asia. Secara keseluruhan masalahnya bukan ini. Pandangan ini benar hanya dalam dua pengertian. Pertama, Asia sudah lumpuh. Karenanya kelumpuhan ini sudah berakhir. Ini jauh dari mengatakan bahwa ada pemulihan nyata di Asia. Mari kita lihat secara lain,krisis Asia sudah selesai, dalam pengertian bahwa ini bukan lagi krisis, namun malaise jangka panjang. Kedua, memang ada pemulihan di beberapa negara, namun bukan pemulihan Asia secara keseluruhan. Pada kenyataannya, pandangan kami malah berlanjut bahwa dua kekuatan ekonomi paling besar di Asia, Jepang dan Cina, sedang menuju pada depresi dalam yang tak bisa diperbaiki.”
Ini adalah pemikiran-pemikiran tentang perpektif bagi Asia dari para analis kapitalis yang punya pandangan paling jauh.
Cina dalam krisis
Fakta bahwa Cina terus tumbuh dengan kecepatan tinggi –sekitar delapan persen– dianggap sebagai tanda positif. Sebenarnya, ini adalah masalah serius. Banyak dari barang-barang yang diproduksi oleh industri China tidak bisa dijual, baik di dalam negeri maupun ke negara-negara Asia yang lain. Overproduksi yang masif sekarang terjadi di Cina. Ini ditunjukkan oleh fakta bahwa Beijing telah menghentikan produksi barang-barang konsumsi, setelah dasar harga dan subsidi ekspor gagal menghentikan naiknya harga-harga.
Penghentian yang dimulai 1 September ini meliputi produk-produk dari mulai VCD player, oven microwave, lemari es, dan AC, sampai sepeda, pasta gigi, tas plastik, permen, garam, jus apel, hingga minuman keras. Selain itu, embargo juga dilakukan atas konstruksi apartemen mewah, hotel, department store, dan kantor-kantor. Stratfor berkomentar: “Turunnya permintaan meluas hingga real estat, dan Cina menghadapi kelebihan barang yang melimpah ruah di pasar. Menurut Associated Press, kota tepi pantai Shangai yang pernah mengalami booming mempunyai tingkat hunian kantor (office-vacancy rates) hingga 70 persen. Boom yang telah menghiasi cakrawala Shanghai dengan mesin-mesin konstruksi dan bangunan-bangunan baru tersebut telah bangkrut, dan jika Shanghai tidak mampu menarik para penyewa bisnis, (keadaan) dalam negeri Cina hanya akan mengalami pembalikan penuh.”
Stratfor berkomentar: “Pasar domestik Cina stagnan, dengan warga yang khawatir tentang ancaman pengangguran menyimpan uang mereka di bawah kasur ketimbang membelanjakannya. Dengan pasar yang mandeg, para produser Cina memangkas harga, dengan demikian memberikan ancaman bahwa ketakutan akan pengangguran akan menjadi kenyataan dengan memaksa mereka sendiri dalam kebangkrutan. Beijing telah berusaha untuk memperlambat spiral deflasioner, dengan memaksakan dasar harga untuk beberapa produk.
“Cina terjebak dalam krisis overproduksi dan konsumsi rendah. Kepercayaan konsumen telah runtuh, dan demikian juga permintaan domestik. Sementara itu, walaupun ada subsidi pajak yang melimpah pada ekspor, Cina tidak mampu mengekspor jalan keluar dari krisis.” (Stratfor, Agustus 1999, huruf miring dari kami)
Akibatnya tak bisa dihindari. Dihantam oleh depresi mendalam dan runtuhnya permintaan domestik, Cina mungkin akan dipaksa untuk melakukan devaluasi. Namun devaluasi terhadap Yuan akan memicu arus baru devaluasi di Asia yang akan menggoncang pemulihan lemah saat ini dan memberikan gelombang hantaman baru pada ekonomi dunia.
Kendatipun demikian, bahkan tidaklah jelas apakah devaluasi Yuan akan memecahkan masalah Cina. Sejauh ini Beijing menolak devaluasi sebab hal itu akan berdampak pada utang luar negeri Cina dan dollar Hongkong. Ada peningkatan ekspor dalam dua bulan terakhir, dan ini akan menunda saat-saat susah selama mungkin. Namun kelihatannya hasilnya tak bisa dihindari. Perselisihan dagang antara Cina dan Amerika semakin tajam. Mayoritas kaum Republikan sayap kanan di Konggres, yang selamanya cenderung pada isolasionisme, berkeras untuk menghalangi masuknya Cina dalam Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Secara tak terelakkan, tendensi proteksionis pasti akan meningkatkan penurunan, atau bahkan kemerosotan dalam ekonomi AS. Dalam iklim seperti ini, devaluasi kompetitif akan menjadi keharusan.
Tanda tanya besar saat ini berada di atas masa depan kapitalisme di Cina. Tidak seperti di Rusia, birokrasi Cina memegang kekuasaannya dengan kuat ditangannya. Terancam oleh ledakan revolusioner pekerja dan petani, akan sangat mungkin bagi birokrasi untuk kembali pada kebijakan pemilikan negara dan perencanaan terpusat. Para kapitalis asing telah kehilangan kepercayaannya pada keajaiban Cina. Pertama kali dalam dua puluh tahun terjadi penurunan dalam investasi asing, walaupun secara keseluruhan investasi asing ini masih tetap tinggi: 45 milyar dollar tahun 1998 dan sekitar 30 milyar di tahun 1999. Tetapi dalam perbandingannya dengan ukuran ekonomi Cina, jumlah tersebut belum memadai untuk memecahkan masalah-masalah fundamental. Pemerintah sadar betul akan potensi kerusuhan sosial dan perkembangan revolusioner. Mereka berada di bawah tekanan untuk menutup industri-industri milik negara, namun takut akan konsekuensi pengangguran besar-besaran. Sektor swasta tidak dalam posisi menyerap jutaan buruh yang akan kehilangan pekerjaan.
Di masa terjadi kemerosotan serius dalam kapitalisme dunia, proses ini akan mengalami percepatan yang dahsyat. Stratfor menarik kesimpulan penting:
“Cina kehabisan pilihan. Jika devaluasi tidak berjalan, masih ada potensi bagi pengendalian mata uang internal–pilihan yang membawa bencana bagi mitra joint-venture asing dan perusahaan-perusahaan asing yang terdaftar di Cina, yang menggunakan bank-bank Cina, dan berdagang dalam Yuan. Bersamaan dengan kontrol negara yang lebih besar, ada peluang untuk saling tuduh. Cina telah menyatakan perang terhadap korupsi, memperkarakan sekitar 244.000 “kejahatan ekonomi” pada paruh pertama 1999– 28,6 persen lebih tinggi dari paruh pertama 1998. Upaya kecil Beijing untuk reformasi ekonomi tanpa gangguan sosial telah gagal. Kini tiba saatnya untuk mengambil tindakan keras dan upaya untuk kembali pada kontrol terpusat.” (ibid.)
Jepang–resesi berlanjut
Runtuhnya model Jepang dengan sendirinya menghadirkan titik balik yang fundamental. Pada prakteknya selama periode pasca perang, Jepang berperan sebagai salah satu kekuatan pendorong utama ekonomi dunia. Dan kini Jepang telah mengalami krisis selama satu dekade. Jepang telah mendapati dirinya ada dalam krisis deflasioner &endash;inilah negara kapitalis maju pertama yang mengalami gejala ini sejak tahun 1930-an. Ini adalah peringatan keras bagi (negara kapitalis) lainnya. Selama tiga tahun terakhir, harga rata-rata tahunan konsumsi di Jepang meningkat hanya sebesar 0,8 persen. Ini bukan refleksi dari meningkatnya produktivitas dan turunnya biaya, namun cerminan dari lemahnya permintaan dan kapasitas berlebihan (overproduksi). Dalam kaitannya dengan harga produksi, situasi bahkan jauh lebih dramatis. Harga ini telah jatuh tujuh kali dalam sembilan tahun terakhir. Hingga Juli (1999) upah rata-rata dalam manufaktur di Jepang jatuh 3,2 persen.
Para ahli ekonomi kaum borjuis telah mengelaborasi suatu sistem untuk mengukur kinerja ekonomi suatu negara dengan membandingkan pertumbuhan ekonominya sekarang dengan angka yang dianggap mewakili tingkat pertumbuhan berkesinambungan dalam sejarah negara itu. Kendati wataknya yang agak arbitrer, metode ini bisa memberi gambaran kasar tentang masalah yang dihadapi Jepang. Selisih output Jepang saat ini adalah delapan persen–angka yang sangat besar, dan lebih besar dari negara kapitalis maju lainnya sejak 1930an. Jadi, ekonomi terbesar di Asia terjerat dalam resesi. Sembarang guncangan serius akan mendorongnya ke tepi jurang. Kondisi seperti ini berarti kemerosotan dalam yang ditandai, seperti di 1930-an, oleh turunnya permintaan, turunnya harga dan turunnya pinjaman bank, yang mengarah pada pemotongan investasi produktif dan stagnasi dan runtuhnya ekonomi umum.
Apa yang menjadi keprihatinan bagian dunia yang lain &endash;terutama Amerika Serikat– adalah ancaman runtuhnya sistem finansial Jepang. Karena Jepang adalah pemberi pinjaman terbesar di dunia, penarikan pinjaman bisa memicu keruntuhan umum sistem finansial dunia, dengan dampaknya yang membawa bencana. Ketergantungan yang tinggi dari ekonomi dunia pada AS menciptakan posisi yang timpang yang mengancam stabilitas semuanya. Tepatnya karena kelas penguasa AS menyadari bahwa mereka tidak bisa mempertahankan situasi ini tanpa batas, Washington memberikan tekanan berat pada Jepang untuk “mengambil sebagian beban ini” dengan meningkatkan aktivitas ekonominya untuk menyerap lebih banyak ekspor dari Asia. Suntikan modal berulang-ulang oleh negara &endash;yang mencapai sekitar satu trilyun dollar selama enam tahun terakhir– telah mendorong Jepang menjadi salah satu negara di muka bumi yang banyak berhutang. Namun walaupun telah banyak uang yang dikucurkan oleh pemerintah untuk ekonomi, Jepang masih berada dalam kubangan resesi, sebagaimana diakui Stratfor:
“Jepang melaporkan angka-angka awal yang menunjukkan ekonominya berkontraksi sekali lagi kuartal yang lalu, mengakhiri apa yang nampak sebagai pemulihan. Sebagaimana kita telah berargumen, Jepang tengah mengalami pantulan jangka-menengah dalam penurunan jangka panjang. Masalah esensialnya adalah tingkat kembalinya modal yang rendah. Dengan kata lain, keuntungannya terlalu rendah untuk sepenuhnya memberi modal pada ekonominya; tidak bisa menarik investasid dari luar, tidak pula memiliki sarana struktural untuk mengintegrasikan investasi skala besar. Satu-satunya jalan keluar dari dilema ini adalah restrukturisasi yang amat menyakitkan bagi ekonomi Jepang, termasuk kebangkrutan besar-besaran, pengangguran dan kesengsaraan. Ini akan berlangsung dalam satu generasi.” (huruf miring dari penulis, AW)
Ini benar-benar merupakan perspektif yang paling luar biasa. Negara yang tadinya merupakan tenaga penggerak kapitalisme dunia, bangsa paling berhasil dan sejahtera di Asia, bangsa yang paling kuat, saat ini berhadapan dengan “kebangkrutan, pengangguran dan kesengsaraan” bagi satu generasi seluruhnya sebagai masa depannya! Dengan adanya kekuatan kolosal proletariat Jepang, ini adalah resep akhir perkembangan revolusioner di Jepang di masa mendatang.
Jepang mendapatkan tekanan yang berat untuk meningkatkan ekonominya dengan apapun harganya. Alasan tekanan ini adalah bahwa orang-orang Amerika menyadari bahwa seluruh ekonomi dunia sekarang sangat tergantung pada mereka –suatu situasi yang tidak bisa dipertahankan. Mereka ingin Jepang mengambil bagian beban ini, dengan menyerap sebagian kelebihan produk yang membanjiri pasar-pasar Asia saat ini. Namun saran macam ini lebih mudah diberikan ketimbang dipraktekkan. Beberapa tahun terakhir Jepang telah mengeluarkan nyaris satu trilyun dollar dengan sia-sia untuk merangsang ekonomi mereka. Secara praktis dampak satu-satunya adalah mendorong Jepang dalam utang. Ini tidak bisa begini terus. Hutang yang besar akan menciptakan hambatan obyektif bagi ekspansi lebih lanjut terhadap pengeluaran dan kredit publik, yang telah gagal untuk mencapai hasil yang diharapkan. Nasib Jepang memberikan peringatan buram pada reformis kiri yang berpikir bahwa adalah mungkin untuk mencari jalan keluar dari krisis kapitalis dengan kembali pada teori-teori Keynesianisme yang telah didiskreditkan.
Walaupun telah disuntik banyak uang publik, ekonomi Jepang masih sangat rentan. Pada tujuh bulan pertama 1999, dengan fakta bahwa tingkat bunga nominal Jepang mendekati nol, pinjaman bank jatuh sebanyak 6,5 persen. Alasan bagi paradoks yang terang benderang ini sangat sederhana. Bank dan perusahaan di Jepang sudah banyak hutang, jadi untuk apa harus pinjam lebih banyak lagi? Lebih lanjut, jika perusahaan Jepang melakukan investasi lebih banyak uang untuk memperbesar kapasitas produksinya, kemana mereka akan menjual barang-barang mereka? 40 persen ekspor Jepang ditujukan bagi Asia. Pasar tersebut kini runtuh. Tanpa pemulihan serius yang nyata, tidak masuk akal untuk meminta para kapitalis Jepang meningkatkan produksi.
Benar, beberapa ahli ekonomi berharap bawha besarnya investasi publik akan menarik Jepang keluar dari resesi. Mereka menunjukkan fakta bahwa ekonomi Jepang tahun ini telah menunjukkan pertumbuhan. Namun kita berbicara tentang angka yang hanya 1,5 persen dalam ekonomi yang sebelumnya sering mengalami tingkat pertumbuhan 10 persen atau lebih. Ini adalah angka yang menyedihkan. Untuk menempatkan ini dalam konteksnya, tingkat pertumbuhan 1,5 persen berarti bahwa GDP Jepang masih lebih rendah daripada GDP di tahun 1997! Kenaikan lemah saat ini tidak menunjukkan gerakan naik di Jepang, namun hanyalah kenaikan sementara sebelum kemerosotan baru.
Walaupun kenaikan sekarang ini mungkin berlangsung beberapa bulan, akhirnya harus berakhir dengan kemerosotan yang lebih tajam. Terlepas dari fakta bahwa hal ini memiliki basis artifisial dalam pengeluaran negara dan hutang publik, yang tidak bisa berlangsung terus menerus, ada alasan-alasan obyektif bagi kesulitan ekonomi Jepang yang tidak gampang dipecahkan. Tingkat kembalinya modal yang rendah dan runtuhnya pasar utama di Asia berarti bahwa ekonomi Jepang tidak mungkin mengalami pemulihan serius di masa mendatang yang dekat. Sebaliknya, lebih mungkin untuk berkontraksi tidak hanya relatif pada ekonomi global namun juga dalam hal-hal yang nyata. Gambaran umumnya adalah gambaran spiral menurun. Namun ini bukan juga garis lurus. Dalam gambaran umum yang menurun, bisa jadi ada kenaikan-kenaikan sementara, seperti yang terjadi sekarang ini. Ini wajar dan melekat dalam watak siklus kapitalis. Gerakan menurun itu sendiri bisa melahirkan peluang bagi pembelian dan penjualan karena kontraksi ekonomi menghasilkan jatuhnya harga. Ketika harga jatuh, peluang pembelian bagi konsumen dan bisnis, menampakkan dirinya, sebagaimana diterangkan Stratfor:
“Memang, permintaan (pasar) menunggu kemerosotan lebih lanjut, kemudian berkelompok pada titik rendah, menciptakan lonjakan-lonjakan dalam aktivitas ekonomi. Lonjakan-lonjakan ini tidak bisa dipertahankan, karena mereka meningkatkan penggunaan perusahaan-perusahaan yang sangat tidak efisien. Ini mengurangi jumlah tingkat kembalinya modal, menutup permintaan efektif. Trend utama mulai bekerja lagi.
“Begini sederhananya, ada permintaan nyata di Jepang tetapi permintaan tersebut menunggu sampai harga-harga mencapai titik rendahnya. Jepang berubah menjadi ekonomi di mana peningkatan dalam aktivitas pemulung membentuk mesin pertumbuhan utama. Ketika kegiatan memulung jenuh, ekonomi mulai kembali pada trend utamanya: kontraksi. Itulah yang terjadi di Jepang sekarang. Lonjakan siklis nampaknya berakhir, dan trend utama menuju kontraksi mulai lagi. Tidak ada prospek segera bagi perubahan dalam situasi ini.”
Adakah jalan keluar dari kebuntuan ini? Stratfor mempertimbangkan opsi-opsi di hadapan kapitalisme Jepang dan sampai pada kesimpulan menarik berikut ini:
“Jika depresi tidak bisa diterima, maka Jepang tidak memiliki kebijakan yang masuk akal. Jepang harus mempertahankan tingkat bunga mendekati nol. Jika Jepang menaikkan tingkat bunga, yang diperlukan untuk mendorong pembentukan modal dan investasi asing, ini akan memicu gelombang kebangkrutan sambil mendongkrak nilai yen. Ini, pada gilirannya, akan memotong ekspor, memangkas aliran tunai dan menganggu stabilitas industri bank sekali lagi. Jika Jepang mempertahankan bunga rendah, maka ini akan menghambat pembentukan modal dan mendorong inefisiensi ekonomi.”
Cukup menggelikan mengikuti tikungan dan putaran para ahli ekonomi borjuis dalam situasi seperti ini. Ancaman kemerosotan ekonomi besar-besaran pada skala dunia memaksa mereka untuk terlibat dalam berbagai macam akrobat dan jungkir balik di mana posisi yang sebelumnya mereka pegang erat-erat mereka lepaskan dengan gembira demi obat ajaib baru yang tidak berarti seperti obat yang lama. Maka Paul Krugman, ahli ekonomi terkemuka dari MIT mendesak Jepang memperluas ekonominya dengan cara mencetak uang. “Jepang butuh kebijakan moneter yang tidak bertanggung jawab.” Seperti anak muda “yang berani melayang di atas trapeze”, mereka yang ditasbihkan sebagai pakar ini melayang di udara dengan nyamannya, dalam upaya gila-gilaan untuk mencari jalan keluar dari kebuntuan ini. Di masa lampau Gereja Katolik Roma mengatakan bahwa “semua jalan menuju Roma”. Kini para ahli ekonomi borjuis bisa menarik kesimpulan bahwa semua jalan menuju ke kehancuran.
Tidak bisa diabaikan bahwa kehancuran ekonomi bisa mulai di Jepang, bukan di AS. Ini akan terjadi bila sistem perbankan Jepang kolaps, yang mana hal ini akan mengguncang dunia sampai pada dasarnya.
Amerika–kunci ekonomi dunia
Kendatipun demikian, kunci ekonomi dunia masih saja Amerika Serikat. Ketergantungan dunia pada raksasa transatlantik sudah menjadi total. Boom di AS telah berlangsung selama sekitar delapan tahun, dan, menyangkal semua prediksi yang berlawanan, nampaknya terus berlanjut. Saat ini terjadi boom konsumen yang penting, pekerjaan penuh dan pertukaran bursa yang meningkat. Ini adalah fenomena yang diharapkan untuk dilihat pada puncak boom. Tidakkah ini semua menggugurkan analisis Marxis?
Dalam setiap boom dalam sejarah, ada ilusi bahwa formula ajaib telah ditemukan yang bisa selamanya mengakhiri siklus boom-kemerosotan. Kini sekali lagi klaim tersebut dibuat oleh para pendukung apa yang disebut dengan Paradigma Ekonomi Baru. Apa yang dikatakan orang-orang ini? Dikatakan bahwa siklus ekonomi saat ini mempunyai watak yang seluruhnya berbeda dengan siklus-siklus di masa lalu. Fenomena seperti globalisasi dan teknologi informasi dikatakan telah mentransformasi ekonomi sedemikian rupa sehingga resesi adalah sesuatu dari masa lalu. Kombinasi tingginya pertumbuhan yang didorong oleh produktivitas lebih tinggi, dibarengi rendahnya inflasi, tingginya laba, ketenagakerjaan yang mendekati penuh dan boom pasar modal, diklaim akan memberikan resep ajaib yang akan menciptakan siklus pertumbuhan tanpa akhir.
Benar bahwa siklus yang berlangsung sekitar delapan tahun sekarang ini termasuk panjang menurut standar pasca perang. Namun demikian, secara historis siklus kapitalis memang selalu elastis. Pada masa Marx siklusnya mendekati sepuluh tahun, sehingga siklus sekarang ini tidak berarti belum pernah ada dalam perspektif sejarah. Kedua, rujukan pada ekspansi delapan tahun agak salah arah, karena boom saat ini mulainya agak lambat. Pada mulanya, sebagaimana telah kita tunjukkan, ada sedikit investasi produktif. Hanya dalam empat atau lima tahun terakhir (tepatnya sejak 1995) investasi produktif di AS naik secara signifikan, dan kemudian, sebagaimana akan kita tunjukkan, terbatas pada satu sektor proses produksi teknologi informasi. Banyak klaim hebat sedang dibuat tentang teknologi informasi. Memang, dalam jangka lebih panjang, ada implikasi penting di sini, terutama bagi ekonomi sosialis terencana di masa mendatang pada tingkat skala dunia. Namun saat ini tidak ada dasar untuk melekatkan sifat ajaib atau apalagi revolusioner pada teknologi informasi.
Dalam setiap siklus selalu ada penemuan baru yang membuka lapangan baru bagi investasi. Di halaman-halaman Manifesto Komunis, Marx dan Engels memaparkan bahwa sistem kapitalis hanya bisa hidup dengan melakukan revolusi secara konstan pada alat-alat produksi. Siklus sekarang ini tidaklah berbeda. Namun klaim besar tentang teknologi informasi hampir tidak tahan pengujian ketat. Tidak bisa serius dipertahankan bahwa dampak teknologi ini akan lebih revolusioner daripada penggunaan mesin uap dalam Revolusi Industri, atau penggunaan kereta api di akhir abad sembilan belas, atau penemuan-penemuan lain seperti kapal uap, telegram, telepon, radio, listrik, atau mesin pembakaran internal, produksi massa, bahan-bahan kimia, plastik, pesawat terbang, televisi, dan banyak lainnya. Dampak dari semua ini lebih besar dari teknologi informasi, atau yang jelas tidak lebih kecil. Terlepas dari klaim-klaim besar tentang teknologi informasi, tidak ada bukti nyata bahwa teknologi informasi berdampak besar pada ekonomi AS secara keseluruhan.
Secara kuantitatif, jumlah uang yang ditanamkan pada teknologi informasi tidak bisa dibandingkan dengan jumlah uang yang ditanamkan pada kereta api di AS dalam dekade-dekade terakhir abad 19, misalnya. Sebagai kekuatan pendorong ekonomi AS, teknologi baru tidak bisa mulai dibandingkan dengannya. Mari kita lihat angka-angkanya. Investasi bisnis di AS telah meningkat jauh lebih banyak selama enam tahun terakhir, dari 13 persen GDP menjadi sekitar 18 persen, namun ini terbatas pada sebagian kecil ekonomi AS, yaitu teknologi informasi, atau tepatnya manufaktur komputer. Untuk menempatkannya dalam konteks, sektor ini mencapai lebih dari satu persen output manufaktur AS.
Potensi besar teknologi baru ini tidak diragukan lagi. Perencanaan produksi menjadi lebih mudah; inventori bisa dikurangi; waktu pengiriman bisa dipangkas; watak distribusi mengalami transformasi; ini mengarah pada semua jenis inovasi produksi; dan yang terakhir yang tidak kalah pentingnya, ada akses gampang pada informasi terbaru bagi semua orang. Ini punya implikasi besar bagi masyarakat masa depan, tidak hanya dalam bidang produksi. Namun disini kita membatasi penggunaan teknologi informasi sekarang ini dalam kapitalisme dan ekonomi pasar yang mengejar laba. Pada prinsipnya, teknologi baru harus meningkatkan fleksibilitas barang-barang modal dan membuat investasi modal menjadi lebih produktif, dengan demikian mendorong lebih besar investasi dan substitusi modal bagi tenaga kerja (langka, mahal). Namun demikian, di dunia nyata, semuanya tidak sesederhana ini! Henry Ford pernah mengatakan: “Saya tidak berbisnis untuk membuat mobil, namun untuk membuat uang.” Tujuan para kapten industri tidaklah berbeda. Sebagaimana dijelaskan Marx, para kapitalis pertama yang memasuki bidang baru investasi bisa mengeruk laba yang sangat besar. Bill Gates, kini orang terkaya di muka bumi, adalah contoh bagus untuk ini. Namun segera nanti para kapitalis yang lain akan menumpuk di bidang yang sama dalam upaya mati-matian mengeruk laba. Tingkat laba segera menjadi rata-rata. Tahap inilah yang saat ini dicapai AS di mana laba dahsyat awal dalam teknologi informasi menyebabkan kemandegan dan bahkan kemerosotan.
Marx menjelaskan hukum fundamental ekonomi kapitalis: bahwa laba para kapitalis adalah tenaga kerja buruh yang tidak dibayarkan. Karena itu, peralihan dari buruh ke mesin (walaupun ini progresif dan perlu) pada akhirnya melahirkan kontradiksi seperti ini: kapitalis tidak bisa memeras sedikitpun nilai lebih dari mesin. Hanya tenaga kerja manusia yang mempunyai watak menghasilkan nilai baru. Karena itu, pengenalan mesin penghemat tenaga kerja, yang secara logis seharusnya membawa pada pengurangan hari kerja, kondisi awal bagi pembebasan sejati umat manusia dari perbudakan upah, dalam prakteknya selalu menuju pada peningkatan eksploitasi dan khususnya peningkatan jam kerja (nilai lebih absolut) atau intensitas kerja (nilai lebih relatif), atau keduanya.
Benar bahwa teknologi baru telah meningkatkan produktivitas pada sektor yang dimaksudkan. Hampir tidak bisa lain! Tujuan utama semua teknologi baru adalah untuk meningkatkan produktivitas lewat ekonomi waktu kerja. Kalau tidak, tidak akan ada gunanya investasi ke sana. Pada dekade yang lalu, nilai tambah tiap pekerja dalam sektor teknologi informasi meningkat hingga rata-rata tahunan 10,4 persen: peningkatan yang penting. Namun yang tidak jelas adalah bahwa ini punya dampak dalam mendorong produktivitas ekonomi AS secara keseluruhan. Statistik lebih memberikan kesan sebaliknlya: tidak ada peningkatan produktivitas dalam ekonomi AS secara keseluruhan dalam periode terakhir. Investasi pada komputer di AS meningkat 14 kali sepanjang 1990an. Namun investasi yang lain hampir tidak meningkat sama sekali. Boom dalam teknologi informasi lebih merupakan pengecualian ketimbang trend umum. Fakta ini menunjukkan tingkatan di mana pertumbuhan di AS tergantung pada sektor tunggal, dan harus berjaya atau rutnuh bersamanya.
Robert Gordon, profesor ilmu ekonomi dari Northwestern University, menyatakan:
“Performa produktivitas sektor manufaktur ekonomi AS sejak 1995 lebih banyak memalukan ketimbang mengagumkan. Tidak hanya pertumbuhan produktivitas dalam manufaktur tahan lama melambat dalam 1995-99 dibandingkan dengan 1972-92, namun pertumbuhan produktivitas dalam manufaktur komputer yang tahan lama telah menurun lebih banyak.” (The Economist, 24/9/99.)
Para pendukung Paradigma Ekonomi Baru mengklaim bahwa pencapaian produktivitas mewakili “trend sekuler” dalam ekonomi AS. Pada kenyataannya yang nampak adalh bahwa pertumbuhan produktivitas sedang mencapai batas-batasnya. Ini ditunjukkan oleh angka-angka yang paling baru. Setelah kenaikan besar pada kuartal pertama 1999 (3,6 persen) kemudian merosot tajam menjadi hanya 0,6 persen pada kuartal ke dua. Ini menunjukkan kekosongan pernyataan bahwa Paradigma Ekonomi Baru berarti bahwa produktivitas diatur untuk meningkat terus menerus. Pada kenyataannya pernyataan ini tidak didasarkan atas bukti empiris apapun.
Dalam setiap boom kita melihat antusiasme irasional mereka yang terlibat dalam pengejaran laba besar, yang bagi mayoritas berubah menjadi ilusi. Pada titik tertentu, over-investasi membawa over-produksi, sebagaimana dijelaskan Marx:
“Alasan pamungkas bagi krisis nyata selalu kemiskinan dan konsumsi massa yang terbatas berhadapan dengan dorongan produksi kapitalis untuk membangun kekuatan produktif seakan-akan kekuatan konsumsi absolut masyarakat menentukan batas-batas mereka.” (Marx, Capital, vol.3, hal. 472-3)
Tahap ini telah dicapai di Asia yang menderita over-produksi barang-barang: komputer, chips, mobil, baja, tekstil, video, televisi, dan lain-lain. Ini pada gilirannya menyebabkan jatuhnya harga-harga, dan tidak hanya di Asia. Runtuhnya pasar Asia dan membanjirnya barang-barang murah di pasar dunia (terutama AS) memberikan dorongan lebih lanjut pada harga-harga di AS sendiri, dimana pasar menjadi semakin padat. Pada tahap dalam siklus inilah bahwa kontradiksi-kontradiksi sistem produksi kapitalis mulai menampakkan dirinya. Teknologi baru tidak berarti menghapus kontradiksi-kontradiksi ini.
Batas-batas Akumulasi Kapitalis
Kendati penampakannya berlawanan, di dalam fondasi sistem tersebut, hukum-hukum lama yang tak terhindarkan dengan diam-diam namun kuat mewujudkan diri. Sejalan dengan terakumulasinya modal, proporsi modal konstan berbanding modal variabel meningkat, menimbulkan perubahan dalam komposisis teknis modal. Dalam pengertian absolut, modal variabel bisa meningkat (lebih banyak buruh dipekerjakan). Namun proporsi tenaga kerja hidup dalam kaitannya dengan modal konstan akan menurun. Walaupun demikian, meningkatnya produktivitas tenaga kerja dibarengi oleh menurunnya bagian modal variabel (upah). Dan walaupun upah nominal dan nyata mungkin naik, tingkat eksploitasi meningkat.
Perlombaan mengejar laba secara gila-gilaan tak dapat dihindari menyebabkan terjadinya overproduksi. Overproduksi selalu muncul di puncak boom, mendahului keruntuhan. Perusahaan-perusahaan berusaha membuang stock barang-barang yang tak terjual. Ada persaingan gila-gilaan memotong harga, memberikan diskon, bahkan menjual dengan harga di bawah biaya produksi (dumping). Pada saat yang sama, produksi tetap berkembang, didorong oleh kompetisi, memperburuk masalah overproduksi. Ini masalah khusus dengan teknologi baru, yang sangat tergantung pada produksi cepat model baru, komputer yang lebih hebat, dan sebagainya. Namun dalam situasi di mana sebagian besar keluarga sudah memiliki paling tidak satu komputer, proses ini akhirnya harus mencapai batasnya. Laba yang diperoleh dengan mengupgrade komputer yang ada tidak membenarkan tingginya biaya penelitian dan pengembangan, pabrik baru dan sebagainya.
Ada tanda-tanda bahwa kita mendekati tahap dalam siklus ini. Di AS kita sudah melihat adanya utilisasi dengan kapasitas rendah. Tidak mungkin menaikkan harga, mengingat adanya banyak stock produk-produk murah di Asia dan kompetisi antar manufaktur di AS sendiri. Di sisi lain, dengan mendekatinya ketenagakerjaan penuh dan bahkan kekurangan tenaga kerja di beberapa wilayah, upah akan cenderung naik. Dalam beberapa bulan terakhir, harga minyak dan beberapa bahan mentah lainnya telah mulai membaik. Di sisi lain, kuatnya dollar yang membantu menjaga harga tetap rendah mulai goyah. Margin laba mendapat serangan dari semua sisi. Dalam konteks ini, ancaman naiknya tingkat bunga mengancam untuk memberikan coup de grace yang akan menggembosi boom dan menyebabkan runtuhnya investasi.
Teknologi baru dan teknik produksi baru bisa memperburuk masalah overproduksi, namun keduanya tak bisa dihindari. Para produser besar komputer sangat tergantung pada turnover yang cepat. Dan karena tiap produser terlibat dalam pertarungan keras memperebutkan pasar, mereka secara konstan mengembangkan supply potensial, proses yang pada akhirnya memproduksi melimpahnya komputer di pasar dan turunnya harga. Ini telah bisa diamati dalam praktek, dan harus mengungkapkan dirinya pada saat tertentu dalam turunnya laba. Di sisi lainnya, metode-metode produksi baru, seperti produksi tepat waktu, yang di maksudkan untuk menggabungkan produksi dan penjualan melalui pengendalian inventaris, telah gagal dalam mencapai sasarannya. Dalam teorinya metode ini menghindari penimbunan stock yang menyebabkan pemotongan produksi. Namun dalam prakteknya, metode ini tidak berhasil. Tingkat stock yang disimpan oleh perusahaan lebih rendah, namun pembangunan stock menjadi gampang berubah sebagaimana biasanya, dan karenanya mampu menekan pertumbuhan sebagaimana sebelumnya. Sebenarnya goyangan pembangunan stock merupakan faktor utama dalam resesi tahun 1990-2 di Inggris dan Amerika, terhitung tiga per lima dari turunnya GDP Amerika. Dalam ekonomi terencana sosialis, akan mungkin untuk memastikan bahwa supply dan demand seimbang, menghindari krisis overproduksi yang boros dan destruktif. Di bawah anarki produksi kapitalis, krisis-krisis semacam ini adalah keadaan yang perlu dan tak bisa dihindari–sekalipun Paradigma Ekonomi Baru.
Tingkat Laba
Berlawanan dengan klaim-klaim besar yang dibuat oleh para teoretisi Paradigma Ekonomi Baru, tidak ada yang ajaib atau bahkan istimewa tentang teknologi informasi. Memang, teknologi informasi adalah perkembangan hebat dari teknik dan pengetahuan manusia, mengandung peluang-peluang dahsyat bagi masa depan dunia ekonomi terencana sosialis. Namun bagi sistem kapitalis ini hanyalah suatu bidang investasi dan salah satu cara cepat kaya. Dan memang beberapa orang telah menjadi kaya dengan cepat. Sebagaimana biasanya, para kapitalis tersebut adalah orang-orang pertama yang memasuki bidang investasi baru yang bisa meraih banyak laba di atas tingkat laba rata-rata, paling tidak untuk sesaat. Namun sebentar kemudian kapitalis-kapitalis yang lain mengikutinya. Mereka semua menumpuk, menanamkan modal, membangun pabrik baru dan memproduksi dan menjual hingga harga mulai menurun dan tingkat laba rata-rata jatuh pada tingkat yang lebih wajar.
Laba para kapitalis hanya bisa berasal dari tenaga kerja buruh yang tidak dibayarkan. Meningkatnya komposisi organik modal secara tak terhindarkan menyebabkan kecenderungan jatuhnya tingkat laba. Kecenderungan ini telah diamati oleh banyak ahli ekonomi borjuis, walaupun mereka tak mampu menjelaskannya. Hanyalah Marx yang memberikan penjelasan ilmiah gejala ini. Namun Marx juga menjelaskan bahwa hukum ini tidaklah absolut, ini hanyalah kecenderungan yang menampakkan dirinya dalam jangka panjang. Bisa jadi ada saat-saat di mana kecenderungan ini mungkin tidak terlihat karena kecenderungan sebaliknya dalam ekonomi kapitalis. Sebenarnya para kapitalis bisa bertoleransi dengan turunnya tingkat laba, selama besarnya laba dipertahankan. Namun pada tahap tertentu besarnya laba mulai turun. Pada titik ini investasi runtuh dan kemerosotan mulai.
Karena itu persoalannya bukan pada mengapa ada krisis dalam kapitalisme, namun lebih pada mengapa sistem kapitalis tidak selalu berada dalam krisis. Pada kenyataannya, ada banyak metode di mana krisis bisa ditunda. Seluruh sejarah kapitalisme adalah sejarah usaha-usaha untuk mengatasi kontradiksi-kontradiksi fundamentalnya. Kapitalisme, sebagaimana dijelaskan Marx, memang mampu mengatasi kontradiksi-kontradiksinya dalam jangka pendek–namun harga (hal itu terjadi) adalah reproduksi kontradiksi-kontradiksi tersebut pada skala yang jauh lebih besar dan lebih eksplosif. Kata-kata ini sangat relevan dengan situasi kapitalisme dunia sekarang.
Dalam Capital volume ketiga, Marx memaparkan berbagai macam cara di mana para kapitalis mampu bertindak untuk menahan kecenderungan jatuhnya tingkat laba. Kecenderungan ini bisa dilawan dengan berbagai cara: a) menurunkan harga komoditi, b) meningkatkan eksploitasi buruh (lewat nilai lebih absolut dan relatif), c) meningkatkan turnover, d) perdagangan dunia (terutama dengan negara-negara kolonial). Faktor-faktor ini telah bermain dalam boom sekarang ini. Aplikasi teknologi baru telah menyebabkan murahnya elemen-elemen produksi (contohnya komputer). Telah terjadi perpanjangan hari kerja dan tekanan tanpa belas kasihan pada buruh lewat percepatan, dan lain-lain. Teknologi itu sendiri telah banyak menyumbang eksploitasi ini. Barang-barang seperti mobile phone, pager, komputer laptop memungkinkan boss untuk memperbudak buruh (termasuk pekerja kerah putih) secara total dan menguasai mereka dua puluh empat jam sehari. Hari kerja bisa meningkat hampir tanpa batas. Turnover meningkat. Eksploitasi terhadap pasar dunia (“globalisasi”) memungkinkan tingginya kenaikan dalam produksi dan penjualan. Perdagangan dengan negara-negara terbelakang memungkinkan negara-negara kapitalis maju untuk mendapatkan untung lebih banyak dengan buruh murah.
Semakin murahnya elemen-elemen produksi
Pertama-tama mari kita lihat semakin murahnya elemen-elemen produksi. Ini berkaitan dengan produktivitas buruh. Sedikit jumlah pekerja memproduksi lebih banyak jumlah komoditi. Ini tetap benar bahkan ketika jumlah buruh meningkat secara absolut. Mari kita lihat contohnya. NAISTAR di Indiana adalah perusahaan penghasil mesin besar dan salah satu dari 10 perusahaan besar bidang manufaktur di AS. Sejak 1995 perusahaan tersebut mengeluarkan 285 juta dollar untuk perbaikan di satu pabrik (peralatan baru menggunakan komputer). Hasilnya adalah sebagai berikut: di tahun 1994 buruh memproduksi 175 mesin per hari. Di tahun 1999, 1.900 buruh menghasilkan 1.400 mesin per hari. Dengan demikian, tenaga kerja meningkat dua kali lipat, sedangkan produksi meningkat delapan kali lipat.
Meningkatnya produktivitas dicapai sebagian &endash;hanya sebagian– dengan penggunaan teknologi baru. Mesin menjadi usang karena digunakan (atau disalahgunakan), namun menurut Marx juga karena mengalami depresiasi moral– yaitu menjadi ketinggalan jaman. Dalam kondisi modern, mesin dan pabrik menjadi ketinggalan jaman lebih cepat ketimbang di masa lalu. Mengingat banyaknya uang yang dipakai, para kapitalis harus memastikan bahwa mesin-mesin mereka benar-benar digunakan sepenuhnya. Inilah alasan obyektif untuk perpanjangan hari kerja dan tekanan tanpa belas kasih pada buruh untuk bekerja lebih keras. Karena telah mengeluarkan banyak uang, perhatian kapitalis adalah untuk menutup pengeluaran mereka dan mendapatkan laba. Cara-cara bagaimana hal ini dilakukan belum banyak berubah secara substansial sejak jaman Karl Marx. Tekanan kejam dilakukan pada buruh untuk bekerja lebih keras, menarik urat dan otot dan bekerja lebih lama untuk menghasilkan nilai lebih. Dengan cara ini, laba bisa dihasilkan, paling tidak pada awalnya.
Hakekat produktivitas adalah mencapai ekonomi waktu kerja–memperpendek waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan komoditi. Namun meningkatnya produktivitas menyebabkan kontradiksi-kontradiksi lebih lanjut. Marx menjelaskan:
“Keproduktifan mesin, sebagaimana kita lihat, berbanding terbalik dengan nilai yang ditransfernya pada produk. Semakin lama hidupnya mesin, semakin besar produk yang dihasilkan. Dengan semakin banyaknya produk maka semakin kecil nilai produk tersebut dibandingkan pada tiap komoditi.” (Marx, Capital, vol.1, 15;3b)
Mesin (modal konstan) tidak bisa menghasilkan nilai baru, hanya kerja kelas buruh (modal variabel) yang menghasilkan nilai. Dengan mengurangi elemen kerja manusia, aplikasi mesin baru membawa akibat semakin murahnya harga komoditi. Jika produktivitas meningkat, lebih sedikit tenaga kerja manusia yang dibutuhkan untuk menghasilakan satu komoditi, yang membungkus lebih sedikit nilai. Dengan demikian harganya akan turun. Gejala ini bisa dilihat dalam setiap siklus kapitalis, dan tidak terkecuali siklus sekarang ini. Secara kebetulan, semakin murahnya harga komoditi juga akan menjaga upah tetap rendah, karena lebih sedikit tenaga kerja yang dibutuhkan untuk mereproduksikan dirinya sendiri.
Sebagai contoh, turunnya harga sirkuit yang digabungkan (pada mesin elektronik) berarti bahwa harga telepon mobile yang paling bagus turun dari $1.000 menjadi $350 dalam empat tahun terakhir ini. Hal yang sama bisa dikutip untuk semua jenis teknologi baru. The Financial Times menunjukkan bahwa “dalam tahun 1996 dan 1997, dua tahun terakhir data detil tersedia, jatuhnya harga dalam industri penghasil teknologi informasi di AS rata-rata sebesar 0,7 persen, menyumbang kemampuan hebat ekonomi AS untuk mengendalikan inflasi dalam periode historis pengangguran rendah.” (The Financial times, 1/9/99)
Ini menimbulkan implikasi penting bagi ekonomi secara keseluruhan. Bagi buruh pekerja sebagai konsumen ini berarti bahwa semua barang yang sebelumnya tidak bisa dimiliki karena mahal sekarang menjadi barang rumah tangga yang wajar. Hal ini menguntungkan para kapitalis dalam dua hal. Pertama, pasar bagi produk mereka semakin melebar. Kedua, semakin murahnya komoditi juga menyumbang semakin murahnya komoditi yang paling berharga, tenaga kerja, yang menjaga upah tetap rendah. Kenaikan upah nyata pada tingkat turunnya harga, dan ilusi yang diciptakannya (dikembangkan para penjaga sistem) bahwa para buruh lebih makmur menimbulkan masalah. Semua ini, pada gilirannya, cenderung melawan kecenderungan turunnya tingkat laba.
Pada saat yang sama, para kapitalis mendorong margin laba mereka dengan meningkatkan nilai lebih absolut dan relatif. Salah satu kontradiksi yang paling memilukan pada periode sekarang ini adalah bahwa aplikasi teknologi baru yang seharusnya menandai pengurangan beban kerja malahan berarti sebaliknya. Seorang ilmuwan baru-baru ini mengungkapkan gejala ini dengan jelas: “Ada lebih banyak perangkat untuk menghemat waktu sekarang ini daripada sepanjang sejarah. Namun tidak ada waktu.” Para buruh bekerja mati-matian, tidak hanya di pabrik-pabrik, namun juga di kantor-kantor, rumah sakit rumah sakit dan ruang-ruang kelas. Daya pikat kerja sudah direnggut dan ditranformasikan ke dalam kerja tanpa otak. Di bawah kapitalisme, dalam kata-kata Marx, pengenalan teknologi menjadi resep untuk “memperpanjang hari kerja di luar batas-batas yang diatur oleh sifat manusia.”
Di semua negeri kapitalis, khususnya di AS, hari kerja telah diperpanjang dalam periode terakhir, dengan lembur wajib, kerja akhir pekan dan penghapusan waktu istirahat dan pengurangan liburan. Hasilnya adalah meningkatnya kerja keras, ketegangan dan kesengsaraan kerja. Kerja yang dulunya adalah tempat di mana manusia merealisasikan potensi mereka sebagai manusia –walaupun ini pada tingkat tertentu– telah berubah menjadi mimpi buruk. Obsesi pada apa yang disebut produktivitas (yaitu laba) telah menguasai tidak hanya ban produksi, namun juga rumah sakit, ruang dokter dan ruang kelas.
Dari kaca mata kapitalis, ini semua adalah kabar baik, karena semakin murahnya elemen-elemen produksi adalah salah satu perangkat di mana tingkat laba dipertahankan atau ditingkatkan. Namun ini juga memiliki kerugian. Karena laba kelas kapitalis terdiri dari kerja kelas pekerja yang tak dibayarkan, penggantian kerja manusia oleh mesin pasti menyebabkan hilangnya nilai lebih, sebagaimana dijelaskan Marx:
“Betapapun banyaknya penggunaan mesin bisa meningkatkan kerja lebih atas biaya kerja yang perlu dengan meningkatkan produktivitas pekerja, jelas ini mencapai hasilnya hanya dengan mengurangi jumlah buruh yang dipekerjakan dengan sejumlah modal tertentu. Ini mengkonversi apa yang sebelumnya disebut modal variabel, yang ditanamkan dalam kerja buruh, menjadi mesin yang merupakan modal konstan, dan yang tidak menghasilkan nilai lebih. Sebagai contoh, tidak mungkin memeras nilai lebih dari dua orang buruh sebanyak dari dua puluh empat buruh. Jika tiap buruh dari dua puluh buruh ini memberikan satu jam nilai lebih, dua puluh empat orang secara bersama-sama memberikan dua puluh empat jam nilai lebih, sementara dua puluh empat jam adalah kerja total dari dua orang. Dengan demikian penggunaan mesin pada produksi nilai lebih mengimplikasikan kontradiksi di dalamnya, karena, dari dua faktor nilai lebih yang diciptakan oleh modal, salah satunya, tingkat nilai leibh tidak bisa ditingkatkan kecuali dengan menurunkan yang lain, yaitu jumlah pekerja. Dengan penggunaan mesin dalam industri, kontradiksi ini muncul begitu nilai komoditi yang dihasilkan mesin mengatur nilai semua komoditi jenis yang sama, dan kontradiksi inilah yang pada gilirannya mendorong kapitalis, tanpa disadarinya, memperpanjang hari kerja, sehingga dia bisa mengkompensasi penurunan jumlah relatif tenaga kerja yang dieksploitasi, dengan peningkatan tidak hanya nilai lebih relatif namun nilai lebih absolut.” (Marx, Capital, vol.1. 15;3b)
Betapa bagusnya kata-kata ini menjelaskan apa yang diketahui oleh setiap buruh! Boom sekarang ini terjadi atas biaya sistem syaraf dan tekanan serta tarikan otot kelas pekerja. Semua omongan cerdas tentang “ledakan produktivitas” pada akhirnya bermuara di sini. Namun demikian, kenaikan produktivitas ini (yang terbatas hanya pada satu sektor ekonomi) telah mencapai batas-batasnya. Ini adalah persoalan mengambil nilai lebih tambahan dari keringat dan otot pekerja, dan ini mempunyai batas-batas fisik. The Economist (25/9/99) membeberkan posisi ini dengan blak-blakan:
“Jika perusahaan terjebak oleh kekuatan ekonomi Amerika yang tak diharapkan dan tak terlihat sebelumnya, satu cara untuk tetap mengikuti permintaan (terutama dalam pasar tenaga kerja yang ketat) adalah mempekerjakan lebih keras karyawan yang ada.” (Penekanan dari kami.)
Dengan demikian, seluruh persoalan produktivitas selalu bermuara pada tekanan tanpa belas kasihan terhadap pekerja untuk menghasilkan lebih banyak dalam waktu yang lebih pendek. Fenomena ini bisa dilihat di mana mana. Kerja telah menjadi mimpi buruk, penderitaan kerja menghancurkan semua kenikmatan atau kepuasan manusiawi. Keserakahan modal demi nilai lebih tidak pernah terpuaskan. Pengenalan teknologi baru bukanlah sarana untuk mengurangi beban mereka yang bekerja, namun sebaliknya, dalih untuk memeras tenaga kerja yang tak dibayar dari mereka. Munculnya kondisi ketenagakerjaan yang hampir penuh, dan dalam beberapa kasus bahkan kekurangan tenaga kerja berarti tidak lagi mudah untuk memberikan beban yang tak dapat ditolerir di atas pundak para pekerja. Dengan telah melewati proses pengurangan tenaga kerja, mengurangi perumahan, fleksibilitas, produksi tepat waktu dan sejenisnya, para kapitalis akan mendapatkan bahwa mereka tidak bisa lagi memeras tenaga kerja tanpla menimbulkan kerusuhan besar.
Harga komoditi dan revolusi kolonial
Cara lain untuk meningkatkan tingkat laba adalah lewat eksploitasi negeri-negeri bekas jajahan. Penjarahan sistematik negeri-negeri jajahan telah menjadi ciri kapitalisme sejak abad enam belas. Namun sekarang super eksploitasi ini telah mencapai tingkatan yang baru dan tak pernah terjadi sebelumnya. Fakta bahwa bangsa-bangsa Asia, Afrika, dan Amerika Latin telah memperoleh kemerdekaan formal lewat perjuangan heroik tidak menandai berakhirnya ekploitasi dan penindasan. Justru sebaliknya. Di atas basis kapitalis negeri-negeri ini sekarang ini lebih diperbudak, lebih tergantung pada imperialisme, ketimbang lima puluh tahun yang lalu. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa penguasaan birokratik militer langsung telah digantikan oleh dominasi tak langsung lewat mekanisme pasar dunia dan utang.
Dominasi perdagangan dunia oelh sejumlah kecil perusahaan multinasional raksasa yang dilengkapi sumberdaya besar dan pada analisis terakhir ditopang oleh kekuatan bersenjata AS dan kekuatan-kekuatan imperialis yang lain, berarti bahwa mereka bisa mendesakkan tekanan untuk menurunkan harga bahan mentah dan ekspor negara-negara Dunia Ketiga lainnya. Bahkan tanpa ini, pertukaran barang-barang antara negeri-negeri terbelakang dengan negeri-negeri kapitalis maju selalu timpang. Meminjam ungkapan Marx, lebih banyak tenaga kerja ditukarkan untuk mendapatkan yang lebih sedikit. Ini adalah permainan di mana negara-negara miskin tidak bisa menang. Mereka pasti akan jatuh ke dalam utang yang lebih dalam. Dan mereka kemudian dipaksa meminjam dari tuan-tuan mereka, dengan membayar bunga yang tinggi, yang akan menjamin mereka untuk lebih tenggelam lagi dalam kesengsaraan. Bagi para kapitalis barat ini adalah keuntungan yang luar biasa. Rendahnya harga bahan mentah adalah cara lain untuk membuat elemen-elemen produksi lebih murah, dan tingkat laba naik: Jika ini berarti kelaparan dan kemiskinan bagi jutaan manusia, biarkanlah. Karena ini bukan urusan kita. Mereka harus belajar mengatur diri mereka sendiri dengan lebih baik dan mengikuti saran-saran IMF!
Pada tingkat tertentu, gerakan naik ekonomi paska perang di negeri-negeri kapitalis maju dibiaya oleh bekas negeri-negeri jajahan mereka. Para imperialis mengambil keuntungan besar dari eksploitasi negeri-negeri paling miskin di atas planet ini. Jatuhnya harga minyak dan komoditi yang lain di awal 1980-an adalah salah satu alasan di balik boom tahun 1980-an dan kenaikan jangka panjang dalam harga bursa AS. Jauh hari Marx sudah menerangkan bahwa perkembangan perdagangan dunia &endash;terutama perdagangan dengan negeri-negeri jajahan– melayani murahnya elemen-elemen produksi dan menaikkan tingkat laba. Jatuhnya biaya komoditi menurunkan biaya produksi dan biaya hidup di negeri-negeri industrial, memperlancar pembentukan modal sembari memperlunak tekanan yang disebabkan oleh permintaan konsumen.
Jatuhnya harga-harga komoditi dicapai atas biaya orang-orang paling miskin di bumi. Melalui pasar dunia dan syarat-syarat perdagangan (terms of trade) yang timpang, negeri-negeri kapitalis maju memperoleh lebih banyak tenaga kerja dengan biaya yang murah. Ini secara langsung menyebabkan krisis utang dunia ketiga, yang pada gilirannya menundukkan bangsa-bangsa terjajah pada bentuk baru penjarahan dalam bentuk tingginya tingkat bunga. Darah, keringat, dan air mata ratusan juta pria, wanita, dan anak-anak dijadikan emas bagi benalu-benalu kaya, sementara substansi dan kemakmuran bangsa-bangsa disedot dalam perjuangan tanpa akhir yang sia-sia untuk melayani utang. Ini adalah resep akhir untuk tahap baru dan eksplosif dalam revolusi kolonial dalam periode berikutnya. Namun ini disampaikan sebagai berkah oleh pendukung Modal.
Imperialisme AS adalah kekuatan militer dan ekonomi paling kuat yang pernah disaksikan dunia. Namun imperialisme ini tidak menggunakan kekuasaannya dengan bijaksana. Malahan sebaliknya. Dibimbing oleh motif paling dasar kepentingan diri dan keuntungan jangka pendek, dia menggunakan ototnya untuk memaksa seluruh dunia menari mengikuti iramanya. Perlomba gila mengejar deregulasi di bawah panji yang disebut “liberalisasi” telah memperkenalkan elemen instabilitas baru dan eksplosif dalam ekonomi dunia. Monopoli-monopoli besar, dengan dukungan antusias pemerintah-pemerintah barat, menuntut pemerintah-pemerintah dunia ketiga untuk membongkar semua tarifnya, membuka pasar mereka, menswastakan industri dan perangkat mereka. Dengan cara ini, negeri-negeri jajahan telah ditempatkan dalam belas kasihan imperialisme. Ekonomi-ekonomi mereka telah dijarah; industri nasionalnya dibongkar. Wajah asli “liberalisasi” ini adalah perampokan telanjang dan perbudakan bangsa-bangsa secara total. Ini adalah obat pahit dan keras yang akan membawa konsekuensi serius nanti. Dan AS akan membayar biayanya nanti. Namun mereka tidak melihat jangka panjangnya. Mengapa tidak menikmati karnaval pembuatan uang selama hal itu mungkin?
“Rendahnya harga-harga komoditi, di mana harga minyak salah satunya yang paling penting,” tulis Stratfor, “mendorong ekonomi Amerika ke atas sembari menahan kemerosotan di Asia. Harga-harga rendah ini juga menimbulkan reaksi tak terhindarkan dari negara-negara pengekspor komoditi. Dari Venezuela ke Saudi Arabia ke Indonesia, dampak rendahnya harga minyak pada ekonomi-ekonomi nasional telah membawa bencana menjelang awal 1999.
Ancaman maut yang ditunjukkan oleh jatuhnya harga komoditi mendorong negeri-negeri penghasil minyak utama untuk bertindak. Bahkan saingan lama seperti Saudi Arabia dan Venezuela berhasil (paling tidak untuk sementara) sepakat untuk membatasi produksi minyak dalam upaya untuk mendongkrak harga minyak. Ini nampaknya telah berhasil. Dalam beberapa bulan pertama 1999, harga minyak telah hampir mencapai dua kali lipat. Ini bisa dijelaskan sebagian karena tindakan negara-negara penghasil minyak untuk memotong produksi. Usaha-usaha seperti ini selalu gagal pada akhirnya karena tiap negara mengutamakan kepentingannya sendiri. Negeri-negeri ini sangat tergantung pada ekspor minyak untuk membayar utang mereka dan menjaga layanan dasar tetap berjalan. Karena itu mereka selalu berakhir dengan menjual minyak secara diam-diam ke pasar dunia. Tidak ada alasan untuk berpikir bahwa saat ini hal tersebut akan banyak berbeda.
Alasan sebenarnya bagi kenaikan (sementara) harga minyak adalah harapan bahwa pemulihan di Asia akan berlanjut dan meningkatkan permintaan akan minyak. Selain itu, instabilitas di Asia Tengah telah menimbulkan keraguan berkaitan dengan ramalan optimistik sebelumnya mengenai produksi minyak di kawasan ini. Pertimbangan semacam itu masuk dalam perhitungan mereka yang mengendalikan gerak spekulatif dalam pasar-pasar komoditi dunia. Namun modal seperti itu bisa keluar dari komoditi tertentu secepat masuknya. Karena itu sangatlah mungkin bahwa harga minyak yang bergerak keatas sekarang ini akan diikuti oleh gerak kebawah. Hal ini akan punya dampak jangka panjang di negara-negara seperti Iran, Venezuela, Mexico, Indonesia, Saudi Arabia dan juga Rusia–yang semuanya ini sedang mengalami instabilitas sosial politik berkenaan dengan goyangan tajam pada harga minyak.
Paling tidak sementara ini, kecenderungan harga-harga komoditi dunia telah berbalik. Harga minyak telah naik dengan tajam dan beberapa harga komoditi yang lain juga telah naik (walaupun sebagian besar harga-harga komoditi mineral belum bisa mengimbangi harga minyak). Dari titik rendah di bulan Februari di bawah $10 satu barrel, harga North Sea Brent telah meningkat mencapai lebih dari $18 satu barrel pada penutupan perdagangan di London. Ini adalah harga minyak paling tinggi sejak Desember 1997. Artinya harga minyak telah naik sekitar 80 persen dalam kurang lebih empat bulan. Dampak gabungan dari pengurangan produksi dan harapan pemulihan ekonomi Asia adalah kekuatan pendorong harga-harga untuk naik yang utama. Namun karena pemulihan Asia tidak akan sekuat dan selama yang diharapkan, boom harga minyak akan diikuti oleh kemerosotan baru. Minyak dan komoditi-komoditi lainya akan dihantam oleh menurunnya permintaan. Di sisi lain, negara-negara penghasil minyak tidak akan mungkin sepakat untuk menjaga produksinya rendah sedangkan mereka semua tergantung pada ekspor minyak sebagai sumber pemasukan utama atau satu-satunya.
Adalah watak ekonomi kapitalis untuk bergerak dalam goyangan siklis yang sepenuhnya bersifat anarkis. Komoditi bisa dijual di atas atau di bawah nilainya. Ini adalah cara yang wajar di mana pasar bekerja dalam permainan supply dan demand. Dalam masa modern, goyangan-goyangan ini dibuat lebih kejang oleh intervensi monopoli-monopoli besar yang terlibat dalam kegiatan spekulatif berskala besar. Awal globalisasi dan penghapusan kontrol gerak modal yang telah dijalankan dengan antusiasme oleh kaum borjuis dengan nama “liberalisasi” selama lebih dari sepuluh atau dua puluh tahun terakhir, hanyalah menciptakan meluasnya lingkup kekacauan dan goncangan pada skala global. Rantai devaluasi di Asia dua tahun yang lalu adalah satu manifestasi dari kegilaan ini. Goyangan keras pada harga minyak dan komoditi lain adalah manifestasi yang lainnya. Dengan demikian, kenaikan harga minyak sekarang ini bisa segera diikuti oleh kemerosotan tajam dalam periode berikutnya, sebagaimana diperingatkan oleh Stratfor:
“Sebagian dari penjelasan (naiknya harga minyak) adalah siklis. Tidak ada keraguan bahwa di bawah $10 per barrel, minyak dijual berlebihan. Dalam terms yang nyata, untuk menyesuaikan inflasi, harga ini adalah tingkat terendah sejak 1930-an. Hal ini tidaklah masuk akal. Bagi OPEC, Asia dan Asia Tengah, harga tersebut jelas terlalu rendah. Namun persoalan pentingnya adalah apakah kenaikan harga tersebut mewakili pergeseran fundamental dalam geometri ekonomi dunia. Yang menarik bagi kita adalah bahwa kenaikan harga-harga tersebut terbatas pada minyak. Ini memberi indikasi pada kita bahwa keruntuhan jangka panjang pada harga-harga komoditi yang merupakan faktor dominan bagi ekonomi global bagi satu generasi belumlah usai.” (Stratfor Weekly Analysis, July 6, 1999)
Para wakil representatif utama Kapital AS, Alan Greenspan dan Federal Reserve, masih kuatir tentang kembalinya inflasi. Ini terlihat aneh akrena inflasi dalam siklus ini telah berada pada tingkat yang rendah–salah satu argumen utama yang dipakai oleh orang-orang Paradigma Ekonomi Baru untuk mempertahankan pandangan bahwa masa-masa boom dan kemerosotan telah berakhir. Namun ada alasan-alasan khusus mengapa Amerika sejauh ini berhasil menjaga rendahnya inflasi, dan alasan-alasan tersebut mungkin tidak bisa lagi dipertahankan. Secara umum gejala jatuhnya harga (deflasi) pada skala dunia berkaitan dengan overproduksi dan rendahnya permintaan. Krisis di Asia telah memperburuk tendensi ini dan menghasilkan dampak tidak langsung. Impor murah dari Asia menimbulkan dampak jenuhnya harga-harga di AS, yang tidak memungkinkan bagi manufaktur Amerika untuk menaikkan harga. Jatuhnya harga-harga komoditi juga menimbulkan dampak yang sama. Tingginya nilai tukar dollar juga menimbulkan dampak pemotongan harga impor. Namun semua gejala ini berbalik ke arah yang berlawanan. Harga minyak meningkat tajam dan harga komoditi yang lain menguat, sementara dollar mulai melemah, terutama terhadap yen, yang pada 18 Agustus melewati Y122–tingkat paling rendah sejak Januari. Secara bersamaan, faktor-faktor ini berarti bawha biaya input perusahaan AS sekarang ini naik. Ini berarti bahwa Federal Reserve akan tergoda untuk menaikkan suku bunga, yang akan membawa implikasi serius bagi pasar modal AS dan ekonomi Amerika pada umumnya.
‘Kecil itu indah’
Mitos yang secara tekun dipelihara adalah bahwa sistem kapitalis didasarkan atas semangat wira usaha sekelompok bisnis kecil. Berkaitan dengan ini perkembangan teknologi informasi dikutip secara khusus. Benar bahwa sebagian besar elemen inovatif dalam teknologi berasal dari bisnis kecil atau bahkan individu dengan gagasan-gagasan cemerlang. Namun ini bukanlah barang baru. Di masa lalu juga, gejala yang sama bisa dicatat. Individu-individu genius seperti Edison, Marconi, atau Stevenson mengembangkan teknik-teknik baru. Namun ketika teknologi baru memasuki dunia pasar, modal yang jauh lebih besar dibutuhkan untuk mengembangkan dan memasarkannya. Teknologi baru diambil alih oleh perhatian kapitalis besar yang mempunyai akses pada banyaknya uang yang dibutuhkan. Dengan demikian, abad heroik bisnis kecil dan jenius inovatif memberikan jalan bagi dominasi monopoli, yang merupakan hasil dari kompetisi tak terhindarkan antara produser kecil.
Seperti semua teknologi baru, teknologi informasi itu mahal, melibatkan landasan modal d jumlah yang luar biasa besar, terutama pada tahap-tahap awal. Dengan demikian, pabrik baru utnuk mengembangkan teknologi di AS ini melibatkan pengeluaran satu atau dua milyar, dan pabrik ini menjadi ketinggalan jaman dalam tiga sampai lima tahun. Jelas bahwa modal yang sangat besar ini hanya dimiliki oleh monopoli-monopoli dan orang-orang seperti Bill Gates. Karena itu, semua omongan tentang kecil itu indah tak lebih dari demagogi kosong. Berbeda dengan periode sejarah yang lain, abad ini adalah abad monopoli.
Walaupun di tahap-tahap awal para kapitalis kecil bisa menghasilkan uang ( contoh klisenya adalah seorang penemu dengan bisnisnya di garasi), dengan cepat ini tidak bisa lagi berjalan. Bisnis kecil digantikan oleh perusahaan-perusahaan besar yang mengeluarkan sejumlah modal yang perlu untuk mendorong proses akumulasi lebih lanjut. Para kapitalis dengan akumulasi modal yang besar mendapatkan akumulasi laba yang lebih besar dibandingkan para kapitalis kecil, walaupun yang belakangan ini mungkin mendapatkan tingkat laba yang lebih tinggi. Modal besar selalu menggantikan modal yang lebih kecil. Sebagaimana diterangkan Marx:
“Di bawah kompetisi, kenaikan modal minimum yang dibutuhkan bagi operasi pengembangan industrial mandiri dalam upya mengikuti kenaikan produktivitas mengasumsikan aspek berikut ini. Begitu peralatan yang baru dan lebih mahal telah dibangun secara universal, modal-modal kecil disingkirkan dari perusahaan-perusahaan ini. Modal kecil bisa menjalankan kegiatannya hanya selama tahap awal penemuan mekanis.” (Marx, Capital, vol.3, 25,4.)
Periode saat kini menyaksikan kenaikan konsentrasi modal secara besar-besaran, yaitu kenaikan kekayaan dan kekuasaan minoritas secara besar-besaran di satu ujung dan meningkatnya kemiskinan, kesengsaraan, degradasi dan penyakit yang juga besar-besaran di ujung yang lain. Kecenderungan ini, yang telah diramalkan Marx dan ditolak oleh para ahli sosiologi borjuis selama beberapa dekade, sekarang menjadi fakta mengerikan yang tak bisa disangkal. Dalam paruh pertama tahun 1998 sendiri, pengambilalihan perusahaan di AS melibatkan sejumlah 949.000 juta dollar. Angka ini tak kurang dari 20 persen dari seluruh kegiatan ekonomi. Dalam paruh pertama tahun 1999 lebih jauh lagi 570.000 juta dollar dipakai untuk merger. Kegiatan-kegiatan ini tidak terbatas pada Amerika saja. Dalam periode yang sama merger di Uni Eropa seharga 346000 juta dollar didaftarkan. Kecenderungan ini tidak menunjukkan tanda-tanda berkurang. Kegiatan merger di dunia dalam tiga kuartal pertama tahun 1999 melonjak sebanyak 16 persen dalam periode yang sama tahun sebelumnya, mencapai tingkatan mengerikan $2,2 trilyun menurut Thompson Financial Securities. Dalam kuartal terakhir, sebagian besar pengambilalihan perusahaan terjadi di Eropa.
Proses konsentrasi modal ini juga merepresentasikan konsentrasi kekayaan kolosal di tangan sedikit orang, dan meningkatnya ketimpangan sosial yang berkaitan dengannya. Di tahun 1992 hanya ada 12 milyarder di AS. Menjelang 1998 jumlah tersebut meningkat menjadi 170. Sekarang lebih dari 200. Bill Gates mempunyai penghasilan pribadi yang melebihi penghasilan pribadi 120 juta orang Amerika. Kekayaan hebat didapatkan dari eksploitasi terhadap orang-orang yang bekerja. Saham dari seluruh pendapatan yang diperoleh oleh orang-orang kaya 20 persen dari orang Amerika naik dari 48,9 persen di tahun 1993 menjadi 49,2 persen di tahun 1998. Namun selama 25 tahun standar hidup buruh Amerika tidak meningkat sama sekali, dan lapisan termiskin menyaksikan bahwa standar hidup mereka sebenarnya menurun. Walaupun upah real mulai naik, saham kelas buruh dalam kekayaan keseluruhan yang diproduksi terus menurun.
Banyaknya jumlah uang yang terlibat dalam pengambilalihan perusahaan tidak mewakili investasi produktif. Kegiatan ini tidak membangun kekuatan produktif. Sebaliknya, hasil akhir merger ini sama saja: penutupan, pemecatan, pengurangan tenaga kerja–yang berarti penghancuran kekuatan produktif. Ini seperti tempat tidur Procrustes (tokoh mitologi Yunani), di mana tamu yang malang harus dipotong tangan atau kakinya untuk bisa masuk ke tempat tidur. Dengan cara yang sama, kekuatan produktif yang telah tumbuh melebihi batas negara bangsa dan pemilikan pribadi dipotong dengan kejam. Pengurangan tenaga kerja dalam dua dekade terakhir hanyalah refleksi pemberontakan kekuatan produktif terhadap kungkungan sistem laba. Meningkatnya watak benalu kapitalisme modern diungkapkan dengan jelas dalam dominasi modal keuangan.
Dominasi modal keuangan
Dalam dekade terakhir kekuasaan bank dan monopoli telah mencapai tingkatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kekuasaan ini mendapatkan ungkapannya yang paling sempurna dalam kekuasaan bank sentral yang telah meningkat dengan dahsyat selama 20 tahun terakhir. Gagasan lama kaum reformis dan kaum Keynesian tentang kapitalisme yang dikendalikan memperoleh ekspresinya dalam apa yang disebut fine tuning di mana pemerintah memanipulasi ekonomi dengan menggunakan instrumen-instrumen seperti suku bunga. Kini semuanya telah berubah. Bank sentral menuntut kemandirian total untuk mengendalikan suku bunga. Karena itu di Inggris, pemerintahan Blair segera menyerahkan kendali suku bunga pada Bank of England. Demikian juga pemerintah-pemerintah di Uni Eropa telah menyerahkan sebagian besar kebijakan ekonomi pada para pejabat European Central Bank (ECB) yang tidak melalui pemilihan. Hal ini tidak pernah dipikirkan 15 tahun yang lalu. Tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah bahwa bank mempunyai kekuasaan yang sangat besar. Ini menunjukkan bahwa kebijakan Keynesian lama benar-benar telah ditinggalkan. Ini akan menambah dimensi baru dan kejutan dalam krisis kapitalisme.
Di masa lalu, ketika semua mata uang terkait dengan emas, ukuran disiplin finansial dipaksakan standar emas, tidaklah mungkin memainkan nilai tukar. Semua mata uang harus ditopang oleh ekuivalen universal–emas. Ini memberikan standar obyektif dan menghindari bahaya kenaikan inflasi dalam supply uang. Setelah Perang Dunia Kedua, kaitan dengan emas masih dipertahankan, walaupun secara tidak langsung lewat standar tukar emas. Dollar diterima sebagai alat pertukaran universal (dengan pound sterling pada posisi subsider). Ini merefleksikan kaitan nyata antara kekuatan-kekuatan yang muncul di antara kekuasaan-kekuasaan kapitalis setelah perang. Imperialisme AS lahir dari perang dengan basis produktifnya yang kuat, dan dua per tiga supply emas dunia tersimpan dalam gudang emas Fort Knox. Dengan demikian, secara harafiah dollar sebagus emas, dan dianggap demikian oleh negara-negara lain. Banyaknkya aliran dollar dalam Marshall Aid dan lewat saluran-saluran lain pada awalnya adalah pelumas baik bagi perdagangan dunia dan memainkan peranan dalam mendorong gerakan naik tahun 1948-74.
Kendatipun demikian, kebijakan-kebijakan Keynesianisme (“kapitalisme terkendali”), pendanaan defisit, perang Korea dan perang Vietnam, dan kebijakan-kebijakan lain yang tidak populer, menyebabkan inflasi–sebagaimana diramalkan kaum Marxis saat itu (Lihat “Will There be a Slump?” oleh Ted Grant). Sebelum perang ada sedikit atau tidak ada inflasi, seperti juga di jaman Marx. Harga-harga di Inggris tahun 1932 kurang lebih sama dengan harga-harga di tahun 1666! Sejak saat itu, harga-harga di Inggris melonjak 4.000 kali lipat, dan di AS lebih dari 1.000 kali lipat. Menjelang awal 1970-an semua negara kapitalis maju menghadapi prospek hiperinflasi gaya Amerika Latin. Kebijakan-kebijakan ekonomi Keynesian –seperti kredit umum– membawa sistem kapitalis melampaui batas-batas normalnya, namun atas biaya inflasi. Pada akhirnya kelas penguasa tidak mempunyai alternatif kecuali menolak kebijakan-kebijakan ini dan kembali pada serangan total terhadap negara kesejahteraan, dengan melaksanakan kebijakan swastanisasi dan pemangkasan kejam atas pengeluaran negara dalam upaya untuk kembali pada kebijakan anggaran berimbang dan uang kuat sebagaimana di masa lalu. Ini adalah basis sebenarnya dari moneterisme dan refleksi politik Thatcherisme yang telah dominan selama dua puluh tahun terakhir.
Ditinggalkannya model “kapitalisme terkendali” yang bangkrut bukanlah semata-mata akibat dari berubah-ubahnya atau kejahatan kelas penguasa. Kini kaum reformis utopia kiri memimpikan kembalinya jaman kejayaan Keynesianisme. Yang mereka tuntut bukan sosialisme, namun “kapitalisme dengan wajah manusiawi.” Mereka membayangkan bahwa adalah mungkin untuk mengendalikan modal dan menghilangkan ciri-cirinya yang tidak menyenangkan. Pada kenyataannya, borjuasi dipaksa untuk meninggalkan Keynesianisme karena ia mengancam akan menelan seluruh ekonomi dunia Barat dalam inflasi gaya Amerika Latin. Lewat jalur ini, tidak mungkin ada jalan keluar.
Walaupun demikian, usaha untuk kembali pada kebijakan lama ortodoks anggaran berimbang dan “uang kuat” telah menghasilkan kontradiksi-kontradiksi baru yang tak bisa dipecahkan. Berpaling menuju moneterisme di tahun 1980-an menyebabkan resesi paling dalam sejak Perang Dunia Kedua di AS dan Inggris. Memang benar bahwa dengan cara ini mereka berhasil menekan inflasi, paling tidak untuk sementara. Tingkat inflasi rata-rata kini dalam ekonomi OECD sedikit di atas satu persen (paling tidak ini angka resminya, walaupun dalam prakteknya tingkat inflasi jauh lebih besar). Namun ini diraih lewat penghancuran sebagian besar dari aparatus produktif, pemangkasan tajam pengeluaran negara dan serangan terhadap standar hidup, dengan memotong pasar, yang hanya memperparah krisis. Menjelang akhir 1980-an, kapitalisme dunia sudah menuju ke arah resesi dalam. Alasan utama mengapa resesi 1990 hingga 1992 tidak berubah menjadi kemerosotan tajam adalah boom di Asia. Ini untuk sementara menyelamatkan sistem. Namun demikian, proses ini sekarang sudah mencapai batas-batasnya.
Tak berbeda dari Keynesianisme, dogma baru moneterisme tidak bisa memecahkan masalah-masalah kapitalisme. Benar bahwa secara parsial (dan sementara) ia telah berhasil menekan inflasi. Namun lihatlah harga hal itu! Dengan memotong pengeluaran negara, mereka juga menghancurkan sebagian besar pasar, yang menyebabkan resesi dalam di Inggris dan negara-negara lain. Walaupun adanya boom sekarang ini, mereka belum berhasil kembali pada jaman keemasan goyangan naik pasca perang. Tingginya tingkat pengangguran di seluruh ekonomi kaplitalis utama bahkan pada saat boom adalah gejala sakitnya sistem ini. Boom sekarang ini dibarengi oleh pembantaian kejam atas standar hidup, jam dan kondisi kerja. Ini adalah boom atas biaya kelas buruh. Semua pemerintahan &endash;apakah itu kanan, “kiri” atau tengah– terus menjalankan kebijakan pemangkasan pengeluaran negara yang sama. Apa yang akan terjadi pada kemerosotan yang akan datang?
Harga di negara-negara kapitalis maju sekarang ini naik sebanyak kurang lebih dua persen setahun. Namun demikian, pada awalnya, ini tidak berarti bahwa inflasi telah ditaklukkan, sebagaimana sering dikemukakan. Harga terus naik, namun dengan laju yang lebih lambat. Bahkan jika mereka berhasil menekan inflasi menjadi nol, harus diingat bahwa tidak adanya inflasi tidak berarti bahwa siklus boom-kemerosotan telah dihilangkan. Pada jaman Marx ada siklus boom dan kemerosotan tiap sepuluh tahun, walaupun secara praktis inflasi tidak ada. Kemerosotan terbesar dalam sejarah, crash 1929, terjadi pada saat ketika harga-harga stabil. Kedua, para ahli ekonomi borjuis tidak yakin bahwa inflasi telah dihapuskan seluruhnya. Naiknya harga saham dan asset juga suatu jenis inflasi, dan sangat berbahaya. Di AS, para ahli ekonomi takut bahwa melemahnya dolar dan pulihnya harga minyak dan komoditi lain bulan-bulan belakangan ini akan menyebabkan kembalinya tekanan inflasi, yang pada gilirannya bisa menimbulkan kenaikan suku bunga yang akan menggembosi boom dan menyebabkan kemerosotan. Sebagaimana diamati oleh The Economist: “Jauh dari kematiannya, inflasi mungkin telah memakai wajah baru yang lebih berbahaya.” (The Economist, 25/9/99.)
Argumen bahwa tidak adanya inflasi menandai hapusnya siklus boom-kemerosotan sepenuhnya tidak benar dan menunjukkan pengabaian sejarah. Inflasi juga rendah pada tahun 1920-an, sebelum kemerosotan 1929, dan di Jepang tahun 1980-an, sebelum kemerosotan di mana ekonomi tidak pernah pulih. Secara pribadi, para ahli strategi Kapital sangat kuatir. Masalahnya adalah bahwa faktor-faktor tersebut di atas melahirkan “kegembiraan irasional” yang diperingatkan Alan Greenspan tiga tahun yang lalu. Kini Greenspan diam saja. Jelas bahwa dia takut bahwa mengungkapkan pikirannya lagi bisa menyebabkan runtuhnya kepercayaan mendadak. Dengan gagal bertindak, the Fed telah menjadi sekutu diam dari apa yang sebenarnya tindakan ceroboh dan berbahaya. Amerika dikuasai ilusi bahwa segalanya adalah untuk yang terbaik dari dunia kapitalis. Paradigma Ekonomi Baru hanyalah refleksi pseudo akademik dari kepercayaan irasional ini. Karnaval pembuatan uang melenggang, tampaknya tak bisa dihentikan. Pesta bagi semua orang! And di tengah-tengah kegembiraan ini, tidak ada tempat bagi wajah masam dan kata-kata peringatan. Makan, minum, dan bergembira, karena besok harga saham akan naik lagi! Sudah naik dan akan naik terus.
Kemerosotan sistem kapitalis menunjukkan dirinya dalam banyak cara, tidak hanya dalam watak dan tindakan para wakilnya, baik secara politik maupun finansial. Pada jaman keemasannya dulu, para bankir adalah orang-orang yang dihormati, mengabdi pada tujuan uang kuat dan anggaran berimbang. Namun di jaman kapitalisme yang lemah karena uzur, ketika bank sentral telah menumpuk kekuasaan yang sangat besar di tangan mereka, para bankir bisa melakukan apa saja kecuali bertanggung jawab. Tidak pernah ada cukup peringatan: “Dengan menggunakan setiap standar penilaian,” tulis The Economist, “Wall Street sekarang ini lebih dinilai secara berlebihan ketimbang menjelang crash 1929 dan 1987.” Di masa lalu dikatakan bahwa peranan the Fed adalah untuk mengambil mangkok minuman ketika pestanya mulai bergoyang. Namun kini tidak lagi. Sembari berbibir manis di hadapan publik tentang kejujuran dan kedisiplinan finansial, Alan Greenspan telah disiapkan untuk mentolerir penciptaan pesta gila-gilaan spekulasi finansial dalam sejarah, walaupun tentunya dia menyadari bahayanya. Dia seperti kaisar Nero yang menggesek biola sementara Roma terbakar. Dengan menaikkan suku bunga sebanyak seperempat persen, dia telah menuangkan minyak ke dalam api. Ungkapan lama menunjukkan kebenarannya: “Mereka yang akan dihancurkan dewa-dewa, dibuatnya gila lebih dahulu.”
Marx tentang Kredit
Hambatan fundamental bagi pengembangan kekuatan produtif dalam jaman modern adalah pemilikan pribadi alat-alat produksi dan negara bangsa. Namun untuk sementara waktu, kapitalisme secara parsial mampu mengatasi hambatan-hambatan ini dengan beberapa cara, seperti membangun perdagangan dunia dan ekspansi kredit. Dulu Marx menjelaskan peranan ekspansi kredit dalam sistem kapitalis. Ini adalah cara di mana pasar bisa diambil melampau batas-batas normalnya. Dengan cara yang sama, ekspansi perdagangan dunia bisa memberikan jalan keluar untuk sementara, namun hanya dengan biaya menyiapkan krisis-krisis yang lebih membawa bencana di masa depan:
“Produksi kapitalis terus menerus terlibat dalam upaya untuk mengatasi hambatan-hambatan ini, namun produksi kapitalis ini mengatasinya dengan cara yang menempatkan hambatan-hambatan yang sama dalam ukuran yang lebih besar.
‘Hambatan nyata produksi kapitalis adalah modal itu sendiri.” (Marx, Capital, vol. 3, 15; 2-3)
Sirkuit produksi kapitalis tergantung pada kredit, salah satunya. Kemampuan memecahkan masalah di salah satu mata rantai tergantung pada kemampuan di mana rantai yang lain. Rantai tersebut bisa putus di berbagai tempat yang berbeda. Cepat atau lambat, kredit harus dibayarkan tunai. Fakta inilah yang seringkali dilupakan oleh mereka yang berhutang selama proses goyangan naik kapitalis. Pada tahap pertama ekspansi kapitalis, kredit bertindak sebagai pendorong produksi: “perkembangan kekuatan produktif memperluas kredit, dan kredit menyebabkan perluasan operasi komersial dan industrial.” (Marx, Capital, vol. 3, p. 470)
Namun demikian, ini hanyalah satu dari dua sisi mata uang. Ekspansi kredit dan utang yang cepat mendorong pasar melampau batas-batas normalnya, tetapi pada titik tertentu ini pasti akan berbalik ke arah yang berlawanan. Selama boom, kredit kelihatan tak terbatas, seperti the Horn of the Plenty dalam mitologi Yunani. Namun begitu krisis muncul, ilusi tersebut tergoncang. Pengembalian tertunda, komoditi tak terjual dalam pasar yang jenuh, dan harga-harga jatuh. Perkembangan pasar dunia tidak merubah proses fundamental ini, namun hanya memberikan jangkauan yang lebih luas di mana proses ini memanifestasikan diri. Akumulasi utang pada analisis terakhir membuat krisis semakin dalam dan lebih panjang daripada yang seharusnya. Sejarah baru Jepang lebih dari cukup untuk menunjukkan hal ini. Setelah menikmati boom selama satu dekade yang ditandai dengan meningkatnya asset dan harga saham, balon ini akhirnya meletus dengan kenaikan suku bunga yang tajam. Situasinya sangat mirip dengan yang terjadi di AS saat ini. Pada 25 Desember 1989, Bank of Japan menaikkan suku bunga, yang menyebabkan terjadinya kemerosotan tajam dalam Pasar Bursa, namun karena harga tanah masih terus naik, suku bunga baru diperlukan. Akhirnya suku bunga dinaikkan hingga enam persen dan menjelang akhir tahun harga saham merosot dengan tajam sebanyak 40 persen. Dari sana, Bank of Japan mempertahankan tingginya suku bunga. Pada saat itu Bank of Japan dipuji oleh para ahli ekonomi atas penanganan ekonomi secara hati-hati. Namun akibatnya adalah resesi panjang selama satu dekade.
Dengan globalisasi, dan penghapusan hambatan kredit dan transaksi finansial, lingkup ekspansi tidak pernah lebih besar, tidak juga potensi bagi crash di dunia. Namun masalahnya bukan krisis yang disebabkan oleh modal fiktif, penipuan pasar bursa dan penggunaan kredit yang berlebihan. Marx menjelaskan ini dalam volume ketiga Capital:
“Mari kita abaikan transaksi dan spekulasi tipuan ini, yang disukai oleh sistem kredit. Dari sini, krisis bisa dijelaskan sebagai akibat dari disproporsi produksi antara konsumsi para kapitalis dan akumulasi mereka. Namun sebagaimana masalah tersebut ada, penggantian modal yang diinvestasikan dalam produksi sangat tergantung pada daya konsumsi kelas-kelas yang tidak berproduksi; sementara daya konsumsi pekerja sebagian dibatasi oleh hukum upah, sebagian oleh fakta bahwa mereka digunakan sejauh mereka bisa dipekerjakan secara menguntungkan oleh kelas kapitalis. Alasan pamungkas untuk semua krisis nyata selalu tetap kemiskinan dan konsumsi massa yang dibatasi berlawanan dengan dorongan produksi kapitalis untuk mengembangkan kekuatan produktif seakan-akan hanya daya konsumsi masyarakat membentuk batas mereka.” (Marx, Capital, vol. 3, p. 472.)
Ekspansi perdagangan dunia dan pembukaan pasar-pasar baru di Asia juga memberikan dorongan sementara, tetapi hanya dengan harga tepicunya keruntuhan yang lebih besar. Inilah bentuk dari apa yang akan terjadi. Kebenaran analisis Marx tentang watak krisis kapitalis ditunjukkan oleh apa yang telah terjadi di Asia. Perspektif tersebut disampaikan tentang pasar besar dengan ribuan juta penduduk yang akan menyediakan cadangan tanpa habis bagi barang-barang, jasa, dan investasi dari barat. Pada mulanya janji tersebut nampaknya mewujudkan diri. Pasar Asia menyediakan pasar besar dan mengembang bagi Barat, yang terlepas dari hal lain, mencegah resesi 1990-2 menjadi depresi.
Namun kini semua ilusi lama berantakan menjadi abu. Sebagaimana telah kita prediksikan delapan tahun yang lalu, pasar di Cina tidaklah sebesar yang mereka bayangkan. Di bawah kapitalisme, pasar tidaklah sama dengan besarnya penduduk. Jika pasar sama dengan besarnya penduduk, maka Bangladesh akan jadi pasar penting. Alasan mengapa pasar tidak sama dengan besarnya penduduk adalah bahwa suatu pasar tergantung pada daya beli. Daya beli mayoritas Cina sangat rendah. Fakta ini segera menerangi para pengamat asing. Artikel mulai muncul dalam pers barat dengan judul seperti “Bagaimana tidak menjual 1,2 ribu juta tube pasta gigi.” Ilusi yang dipertaruhkan adalah daya beli absolut penduduk Cina, yaitu kebutuhan real manusiawi (untuk pasta gigi, dan banyak lainnya) dibenturkan pada kenyataan daya beli penduduk Cina dan negara-negara Asia lain yang terbatas.
Kontradiksi pokok kapitalisme adalah bahwa keserakahan untuk nilai lebih mendorong mereka untuk mengembangkan kekuatan produktif sampai suatu titik di mana komoditi tidak bisa lagi diserap pasar. Pada titik ini overproduksi muncul. Untuk sementara waktu mereka bisa mengatasi kontradiksi ini dengan investasi pada apa yang disebut Marx departemen satu, yaitu produksi alat-alat produksi, mesin, pabrik, litbang, dsb. Namun kontradiksi-kontradiksi akan selalu muncul kembali, karena pada titik tertentu investasi pabrik dan mesin pasti menjadi komoditi massa.
Asia adalah contoh klasik bagi proses yang berlangsung dalam kondisi yang mirip laboratorium. Pengejaran terhadap pasar baru dan secara potensial menguntungkan mengundang investasi besar di Asia. Ini menyebabkan pembangunan pabrik-pabrik baru dengan mesin modern untuk mengambil keuntungan dari rendahnya upah buruh di Cina dan di negara-negara Asia yang lain. Perkembangan ini disambut oleh kaum Marxis karena ini menyebabkan penguatan proletariat. Implikasi revolusioner in baru sekarang dipahami oleh para ahli strategi Modal. Pemogokan umum di Korea Selatan adalah indikasi dari apa yang akan terjadi besok di Cina, Jepang dan negara lain di Asia, sebagaimana realitas krisis kapitalisme membakar kesadaran massa.
Dari sudut pandang ekonomi, Asia kini adalah bukti hidup pernyataan Marx tentang tak bisa dihindarinya overproduksi. Akar penyebab keruntuhan di Asia bukanlah besarnya hutang, korupsi dan inefisiensi yang sedemikian sering dikutip oleh para ahli ekonomi barat (sebelumnya ekonomi-ekonomi ini dijunjung sebagai model efisiensi dan bukti keunggulan ekonomi pasar!). Faktor-faktor ini hanyalah manifestasi luar dari masalah yang lebih dalam. Seandainya pasar Asia terus berkembang, menghasilkan banyak penjualan dan laba, tak seorangpun akan memperhatikan hutang, manipulasi dan ketimpangan. Hal-hal tersebut terdapat dalam setiap boom kapitalis dan mereka ada dalam ekonomi AS sekarang ini. Hanya ketika menjadi jelas bahwa ekonomi menuju krisis, ketika overproduksi muncul (biasanya dalam bentuk kelebihan kapasitas di bawah kondisi modern), permintaan dan harga mulai jatuh dan margin laba menurun, dunia uang tiba-tiba tersadar bahwa seluruh bangunannya adalah gubug yang dibangun di atas kaki ayam. Konsekuensinya, bukan tidak adanya kepercayaan yang menyebabkan krisis, namun adanya krisis yang menyebabkan runtuhnya kepercayaan, yang memanifestasikan dirinya dalam jatuhnya mata uang (Baht Thailand), skandal keuangan dan crash bursa saham.
Dampak dramatik dari gejala-gejala tersebut mencekam imajinasi jutaan orang, dan karena itu dianggap sebagai sebab krisis yang sebenarnya. Namun adalah watak dari pemikiran borjuis modern (dalam filsafat dan juga ekonomi) untuk mengaburkan apa yang kelihatan dengan kenyataan dan memberikan penjelasan subyektif yang tidak menjelaskan apa-apa. Apa tepatnya yang menyebabkan kepercayaan runtuh? Mengapa krisis di Thailand terjadi pada saat itu dan bukannya satu tahun lebih awal? Mengapa manipulasi dan kejanggalan baru nampak sekarang? Kita dengan sia-sia berusaha mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini pada para ahli ekonomi borjuis. Dan ketika boom sekarang ini di AS jatuh, mereka juga tidak akan bisa menjelaskan mengapa “kepercayaan” yang kini menjaga Amerika menahan dari tarikan ke bawah semua hukum ekonomi akan menguap seperti air di atas kompor panas. Alasannya tidak sulit untuk ditemukan. Lenin pernah mengatakan bahwa orang yang ada di tepi jurang tidak berpikir. Jika para ahli ekonomi tersebut harus mencari sebab obyektif krisis kapitalisme, mereka harus mengakui apa yang tidak bisa diakui–yaitu bahwa masalahnya melekat dalam sistem itu sendiri. Namun demikian, mempertahankan gagasan subversif seperti itu tidak disarankan, karena kesimpulan yang tak terhindarkan adalah bahwa perubahan fundamental masyarakat dibutuhkan.
‘Dasar-dasarnya masih kokoh’
Salah satu argumen utama para pendukung Paradigma Ekonomi Baru adalah bahwa masih ada permintaan produk-produk teknologi baru; masih banyak rumah tangga yang belum mempunyai internet atau telepon mobile! Dan kemudian televisi digital sebentar lagi diperlukan. Argumen seperti ini kekanak-kanakan pada tingkat yang ekstrem. Mereka mengasumsikan apa yang harus dibuktikan–yaitu bahwa permintaan (dalam arti permintaan nyata–daya beli) mampu dikembangkan tanpa batas. Jelas bahwa ada banyak orang di dunia yang ingin mendapatkan berkah internet, telpon genggam, mobil baru, atau bahkan semangkok nasi. Adalah sepenuhnya hal lain bahwa mereka memiliki sarana untuk yang diperlukan untuk mendapatkan berkah tersebut! Inti produksi kapitalis adalah bahwa untuk mengejar laba, tiap kapitalis memproduksi tanpa memikirkan batas-batas pasar hingga pasar menjadi jenuh dengan barang-barang yang tidak bisa mendapatkan pembeli.
Permintaan barangkali masih ada–dalam pengertian kebutuhan dan hasrat. (Dalam hal ini tidak pernah ada overproduksi). Namun hal ini bukanlah urusan kapitalis yang terlibat dalam produksi, bukan nilai-guna namun semata-mata nilai tukar, yang hanya bisa diwujudkan dalam tindakan pertukaran. Apakah dalam kenyataannya ini bisa diwujudkan adalah perkara lain. Untuk sementara waktu batas-batas alami pasar bisa dikembangkan lewat kredit. Namun pada akhirnya batas-batas ini akan dicapai, dan pada titik ini, kredit akan berbalik ke arah berlawanan. Pandangan sekilas pada situasi utang di AS menunjukkan bahwa keadaan kredit seperti sekarang ini tidak bisa berjalan lebih jauh lagi. Pasar sudah diulur secara berlebihan. Ini pasti menyebabkan situasi di mana penyimpangan dikoreksi–proses yang sangat menyakitkan! Seperti pita elastis yang diulur melebihi batas kemampuannya, kredit akan memantul kembali dan menampar muka.
“Karena tujuan modal tidak untuk memenuhi keinginan tertentu,” Marx menerangkan,”dan kaena modal mencapai tujuan ini dengan metode-metode yang menyesuaikan produksi massa pada skala produksi dan bukan sebaliknya, konflik pasti akan terus muncul antara kondisi konsumsi terbatas atas basis kapitalis dan produksi yang selamanya cenderung untuk melampaui hambatan-hambatan yang ada.” (Marx, Capital, vol. 3, 15; 2-3)
Masalahnya tidak terletak pada apakah tersedia bidang investasi baru yang didasarkan pada teknologi baru. Masalahnya adalah apakah para kapitalis mampu membuat laba dengan investasi dalam teknologi baru yang akan membenarkan pengeluaran mereka. Dan masalah ini bukanlah apakah ada permintaan (potensial) umum untuk produk-produk baru. Masalahnya adalah apakah ada cukup daya beli dalam masyarakat di mana para kapitalis bisa menjual komoditi mereka, dan dengan demikian mewujudkan nilai mereka dalam kenyataan. Sejauh ini permintaan di AS masih kuat, terutama atas basis kredit dan boom Pasar Bursa. Berapa lama ini akan bertahan adalah persoalan lain.
Argumen bahwa ekonomi Amerika pada dasarnya kuat dan bahwa boom konsumen sekarang ini bisa berlanjut tanpa batas sepenuhnya tidak benar. Mereka yang membuat pernyataan tak bisa dipertanggungjawabkan tersebut melupakan penjelasan tingkat hutang dalam ekonomi Amerika yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dari tingkat yang sudah tinggi 85 persen di tahun 1992, hutang rumah tangga keseluruhan di AS telah meningkat menjadi 102 persen dari pemasukan pribadi. Salah satu dari industri yang paling menghasilkan keuntungan di Amerika saat ini adalah bisnis kartu kredit. Pembayaran layanan utang konsumen mencapi rekor. Dengan kata lain, orang-orang mengeluarkan lebih banyak uang daripada yang mereka mampu, dan ini khususnya masalah rumah tangga-rumah tangga paling miskin di Amerika. Ini mempunyai implikasi yang sangat serius di masa mendatang ketika ekonomi bergerak turun.
Apa yang benar terjadi pada utang pribadi juga terjadi pada utang perusahaan. Utang perusahaan juga mencapai rekor dalam persentasenya dari sektor GDP perusahaan. Dalam tahun 1998 sendiri, bisnis non-finansial meningkatkan utang mereka sebanyak lebih dari 400 ribu juta dolar. Ini tidak akan menjadi masalah jika uang tersebut diinvestasikan untuk tujuan-tujuan produktif. Namun masalahnya tidak demikian. Sebagian besar uang ini digunakan untuk membiayai pembelian saham! Pada tingkat tertentu demam spekulasi mencengkeram ekonomi Amerika.
Mengomentari situasi ini, The Economist (25/9/99) menulis “kendati terjadi boom ekonomi, pinjaman bank meningkat, dan tingkat kegagalan membayar obligasi perusahaan mencapai tingkat paling tinggi sejak awal 1990an.” Ini menunjukkan tidak kokohnya landasan keseluruhan proses. Satu-satunya hal yang mempertahankannya adalah boom Pasar Modal, yang cepat atau lambat pasti berakhir. The Economist melanjutkan:”Namun harga saham bisa jatuh, walaupun utang tetap bertahan pada nilainya. Dan hanya pemasukan bisa melayani utang: asset finansial tidak bisa membayar bunga tagihan kecuali dijual. Jika setiap orang dipaksa menjual, harga saham akan lebih jatuh lagi.”
Marx menjelaskan peranan kredit dalam ekonomi kapitalis sebagai sarana di mana kaum kapitalis bisa mendorong pasar melampaui batas-batas normalnya. Dalam periode boom, setiap orang mengejar kredit, yang kelihatan memiliki sifat-sifat ajaib. Ini adalah bagian yang diperlukan dari proses akumulasi modal, dan tak seorangpun perduli akan tingkat utang yang semakin tinggi. Dalam pengerukan laba gila-gilaan, kredit nampaknya memainkan peranan penting dalam mendorong ekonomi untuk maju: “Ekspansi kredit dan boom harga asset cenderung untuk mendorong dirinya sendiri. Ekspansi kredit yang lebih cepat mendorong kegiatan ekonomi, laba dan juga harga asset. Pada gilirannya, naiknya harga asset memberi harapan palsu pada lembar keuangan dan memberikan kemungkinan rumah tangga dan perusahaan untuk meminjam lebih banyak lagi. Dengan cara ini, boom kredit membakar gelembung spekulatif.” (The Economist, 25/9/99)
Namun demikian, dengan dimulainya krisis, seluruh proses berputar ke arah sebaliknya. Kini utang harus diminta. Bank tidak lagi dengan gampang memberikan kredit. Hipotek harus ditutup. Orang-orang perlu uang untuk membayar utang mereka. Ada rush dari bursa dan saham untuk diubah menjadi tunai. Semua ini tercermin dalam naiknya suku bunga yang menyebabkan dampak menekan pada konsumsi dan margin laba dan kaenanya membuat kemerosotan semakin dalam. Mantra kredit tak terbatas tiba-tiba putus, kereta kencana berubah kembali menjadi labu, dan Cinderella harus pulang dengan pakaian compang campingnya, hanya untuk mendapatkan bahwa rumahnya telah diambil alih oleh bank. Seperti yang diungkapkan oleh Warren Buffet dengan jenaka: “Hingga pasang surut hilang kita tidak tahu siapa yang berenang telanjang.”
Ekspansi kredit yang cepat telah memainkan peran besar dalam setiap periode ekspansi kapitalis, paling tidak sejak Revolusi Industri. Namun demikian, di bawah kondisi-kondisi modern, ekspansi ini telah tumbuh mencapai dimensi yang tak terdengar hingga saat ini. Karena itu, dalam gelembung asset dan harga di Jepang, Inggris, dan Skandinavia di tahun 1980-an, pertumbuhan kredit yang cepat adalah salah satu dari sebab utama seriusnya kemerosotan yang mengikutinya. Apa yang pada awalnya mendorong boom akhirnya menjadi salah satu penyebab utama penghancurannya. Dalam gerakan naik, kredit dan modal fiktif berfungsi melumasi sistem, hanya untuk menghancurkannya belakangan nanti.
Watak timpang ekonomi Amerika saat ini dimanifestasikan lebih jauh dalam pertumbuhan defisit finansial sektor swasta secara besar-besaran. Ini adalah jumlah tabungan perusahaan dan rumah tangga, minus investasi total. Di awal 1990-an terjadi empat persen surplus. Kini, defisit berada pada tingkat lima persen dari GDP. Untuk membuat perbandingan historis, di tahun 1987, hanya ada sedikit defisit sebanyak 0,8 persen dari GDP.
Ketika boom tiba-tiba runtuh, orang-orang akan berusaha membayar utangnya, mengurangi pinjaman dan menabung lebih banyak. Ini adalah fenomena klasik penimbunan, yang dibahas Marx secara rinci dalam Capital. Setiap orang menginginkan tunai, tak seorangpun ingin membelanjakan uangnya, maka konsumsi turun dan pasar mengerut. Ini menyebabkan jatuhnya harga dan laba. Untuk mengamankan sahamnya dalam pasar yang menciut, para kapitalis terpaksa menggunakan diskon dan bahkan menjual komoditinya dibawah harga. Pada gilirannya ini mengakibatkan jatuhnya investasi. Karena investasi adalah motor penggerak dibalik setiap boom, ini langsung menyebabkan kemerosotan. Dalamnya kemerosotan sangat diperparah oleh ekses-ekses periode sebelumnya, seperti sakit kepala karena minuman keras berbanding lurus dengan banyaknya alkohol yang dikonsumsi pada pesta malam sebelumnya. Boom spekulatif saat ini di AS mewakili sebagian dari dimensi-dimensi yang perlu dipertimbangkan!
Pasar Bursa
Ada elemen spekulatif dalam setiap boom, dimulai abad 17. Dalam tulip mania di Belanda (1630) setangkai bunga yang jarang mampu mencapai 5.500 Florin–atau 50.000 dollar dalam mata uang modern. Dalam crash setelah itu, banyak orang yang hancur. Hampir seratus tahun kemudian, kisah ini terulang lagi dalam gelembung Laut Selatan (1720), ketika satu perusahaan petualang menawarkan untuk mengambilalih utang nasional Inggris ditukarkan dengan monopoli perdagangan Laut Selatan (perdagangan di Amerika Selatan). Ada contoh terkenal mengenai saham yang ditawarkan dalam koran Times yang diiklankan sebagai “Untuk tindakan yang akan diungkapkan dalam waktu yang tepat.” Saham ini laris. Selama demam spekulatif gila ini, harga saham naik dari 130 menjadi 1.000 pound dalam waktu tujuh bulan. Kemudian meletus. Di antara ribuan orang yang kehilangan uang ketika gelembung itu meletus adalah ilmuwan terkenal Isaac Newton yang berkomentar dengan pahit: “Saya bisa menghitung gerakan benda-benda di langit, namun saya tidak mampu memperhitungkan kegilaan orang.” Sebelum crash 1929 terkenal skandal tanah Florida. Banyak uang dibayarkan untuk tanah rawa. Dan sebagaimana selalu, pesta gila spekulatif berakhir dengan air mata.
Modal fiktif, sebagaimana Marx menyebut surat “kekayaan” yang disebabkan oleh spekulasi, telah memainkan peranannya dalam setiap boom dalam sejarah kapitalisme. Dalam periode gerakan naik, ada demam permintaan modal dan pengejaran irasional untuk laba cepat dan uang mudah. Sebagaimana diterangkan Marx, borjuis selalu mendapatkan uang dari uang (M-M1) tanpa usaha keras dalam produksi. Inilah asal usul perjudian pasar modal dan berbagai jenis spekulasi yang lain. Selama periode boom, sejumlah besar modal fiktif dihasilkan dan dianggap valid, walaupun kurang memiliki basis nyata. Di AS dalam boom saat ini fenomena ini telah mencapai proporsi yang paling luar biasa. Tidak hanya harga-harga di Wall Street telah digelembungkan samapi pada titik di mana mereka tidak punya hubungan dengan niali nyata atau profitabilitas perusahaan yang dikutip, namun banyak modal fiktif yang bersirkulasi di dunia pasar uang sebagai turunan dan perangkat spekulatif yang mirip.
Bahwa mereka menuju pada keruntuhan besar jelas bagi semua orang kecuali pemuja buta masyarakat perjudian. Mengomentari bahaya crash pasar bursa, The Economist (21/8/99) menulis:
“Dua –dan berhubungan– ketidakpastian penting bisa menutupi gambaran ini. Yang pertama adalah pasar bursa. Jika Wall Street mengabaikan suku bunga yang lebih tinggi seluruhnya, sebagaimana dilakukannya bulan Juni, perlambanan akan lebih sulit dicapai. Sebaliknya, koreksi besar dalam pasar bursa bisa memicu perlambanan tajam yang tidak menyenangkan. Yang kedua adalah bagaimana orang asing akan berperilaku. Ini tidak diketahui. Defisit perdagangan Amerika mencapai rekor $24,6 milyar di bulan Juni, dan negara tersebut sedang menuju defisit anggaran berjalan 4% dari GDP tahun ini. Karena ekonomi-ekonomi Eropa dan Asia naik, investor asing yang membiayai defisit bisa menuntut suku bunga yang lebih tinggi untuk melakukannya.
“Turunnya dollar baru-baru ini dan menguatnya penerbitan obligasi baru merupakan permintaan jika sentimen asing turun dengan tajam,” the Economist memperingatkan. “Perlambanan ekonomi Amerika yang dibutuhkan bisa terjadi lebih mendadak daripada yang diharapkan orang. Dan Alan Greenspan nantinya bukanlah lagi nampak sebagai makhluk setengah dewa.”
Cukup menggelikan membaca komentar mereka yang disebut pakar yang menyatakan bahwa tidak ada alasan untuk prihatin karena para kapitalis telah belajar dari kekeliruan masa lalu. Hal ini mengingatkan akan pendapat Hegel bahwa tiap orang yang belajar sejarah bisa menarik kesimpulan bahwa tak seorangpun pernah belajar dari sejarah. Sebaliknya, para kapitalis sekarang ini sibuk mengulangi kekeliruan masa lalu, menyiapkan bencana yang jauh lebih besar.
Dalam ukuran besarnya, perilaku spekulatif di Wall Street tidak memiliki preseden dalam sejarah kapitalisme. Ini menempatkan spekulasi 1929 dalam bayangannya. Dalam ruang 12 bulan, saham internet naik sebanyak lebih dari 1.000 persen. Namun hingga saat ini, tidak ada satu perusahaan yang disebut telah menghasilkan laba. Ini mirip dengan boom saham dan harga properti di Jepang di tahun 1980-an, ketika mereka naik sebanyak empat kali lebih, dan kemudian jatuh. Bahaya keruntuhan di Wall Street telah ditunjukkan kurang lebih tiga tahun yang lalu oleh Alan Greenspan, Kepala Federal Reserve. Di bulan Desember 1996, dia memperingatkan kegembiraan irasional di pasar bursa, yang pada saat itu berada lebih dari 6.000. Namun Greenspan dan Fed tidak melakukan apa-apa untuk menghentikan inflasi nilai besar-besaran di Wall Street. Di sisi sebaliknya, setelah runtuhnya Rusia bulan Agustus 1998, tingkat bunga AS diturunkan, mendorong pecahnya demam spekulatif. Dow Jones kini berada pada sekitar 11.000. Ini menghasilkan semacam euforia dan keyakinan dalam banyak orang bahwa kenaikan spektakuler pasar bursa bisa berlangsung selamanya. Dalam kenyataannya hal ini justru menyiapkan keruntuhan masif.
Sejauh ini pasar bursa mengabaikan sedikit kenaikan suku bunga, yang oleh Fed dinaikkan dengan sangat lamban. Greenspan tidak lagi memperingatkan menentang “kegembiraan irasional” pasar bursa. Alasan mengapa dia diam saja mudah dipahami. Bukan berarti bahwa representatif keras kepala dari bisnis besar ini telah yakin bahwa bahaya telah dilewati. Justru sebaliknya. Dia tahu bahwa situasinya lebih berbahaya dari sebelumnya, dan bahwa goncangan paling kecil bisa membuat seluruh struktur yang lemah runtuh ke tanah. Kata-kata ceroboh dari Presiden Fed bisa mengakibatkan kepanikan finansial. Dan Greenspan tidak ingin turun dari sejarah sebagai orang yang menyebabkan crash di Wall Street!
Karena Pertukaran Bursa tidak berhubungan dengan ekonomi nyata, ada orang yang berpendapat bahwa keruntuhan di Wall Street tidak akan mempunyai dampak serius. Ini sepenuhnya keliru. Walaupun pasar bursa punya hukumnya sendiri, yang terpisah dari hukum-hukum ekonomi nyata, tidak berarti bahwa keduanya tidak berhubungan. Ada kaitan antara keduanya, walaupun tidak langsung dan otomatis. Sebagai contoh, walaupun harga saham di Wall Street nampaknya tidak berhubungan dengan nilai nyata perusahaan yang dicantumkan, pada analisis terakhir dividen saham pasti tergantung pada laba perusahaan-perusahaan tersebut, pada jumlah kerja yang diambil dari kelas pekerja yang tidak dibayarkan. Kenaikan harga saham adalah antisipasi kenaikan laba dan dividen yang lebih besar. Ketika antisipasi ini dinegasikan oleh kenyataan, harga saham akan jatuh secepat ketika dia naik. Hingga kini para kapitalis telah menjaga margin laba dengan meningkatkan produktivitas, namun ini telah mencapai batasnya.
Sulit untuk mendapatkan bukti konklusif kecenderungan profitabilitas, yang cenderung untuk naik dan turun, namun ada beberapa indikator signifikan bahwa kondisinya jauh dari memuaskan. Di tahun 1997, 70 persen laba perusahaan AS datang dari 200 perusahaan. Di tahun 1999, 70 persen laba perusahaan berasal dari hanya 50 perusahaan. Ini sebagian merefleksikan naiknya jumlah merger, namun ini tidak bisa menjelaskan gambar seluruhnya. Ini nampaknya juga menunjukkan bahwa laba mulai turun, kecuali segelintir perusahaan yang berhubungan dengan sektor teknologi informasi. Ini adalah landasan sempit bagi seluruh ekonomi AS dan dunia. Ini juga cocok dengan gambaran umum mengenai stagnasi atau jatuhnya produktivitas. Posisi ini jelas tidak bisa dipertahankan. Ketika fakta ini mulai dicatat, ini akan punya konsekuensi mengerikan bagi Wall Street. Ketika para pemegang saham menyadari bahwa laba besar yang diantisipasi tidak akan pernah terwujud, mereka mulai menarik saham mereka, yang memicu jatuhnya harga. Banyaknya pedagang yang tidak berpengalaman membuat persoalan semakin buruk. Keruntuhan akan berubah menjadi bola salju.
Oleh karena itu pasar bursa, dalam cara gila dan terdistorsi, merefleksikan gerakan ekonomi nyata dan pada gilirannya bisa menimbulkan dampak besar bagi ekonomi nyata. Boom konsumen di AS sekarang ini sangat tergantung pada naiknya harga saham dan utang. Ketika gelembung inflasi asset meletus, ini akan menimbulkan efek yang menggoncang pada apa yang disebut kepercayaan konsumen. Permintaan akan merosot karena para memegang saham mengambil cadangan kerugian mereka dan berusaha untuk mengatasi utang mereka. Ini jelas merupakan masalah bagi ekonomi nyata! Pada saat ini hampir lima puluh persen orang Amerika memiliki saham, baik secara langsung atau tidak. Ini berbanding dengan sekitar 25 persen di tahun 1987, ketika krisis pasar bursa terakhir terjadi. Jumlah pemegang saham di AS lebih dari sepuluh kali lebih besar daripada di tahun 1929. Membayangkan bahwa crash dalam pasar bursa dalam situasi ini tidak punya dampak pada ekonomi nyata adalah fantasi belaka.
Pada saat ini boom Pasar Bursa di AS telah menarik banyak modal asing. Walaupun ekonomi AS banyak utang dan mengalami banyak defisit perdagangan dengan bagian dunia yang lain. Di sini kita punya kontradiksi nyata. Jika negara lain ada dalam posisi yang sama, modal akan keluar dan mata uangnya jatuh. Wall Street dan dollar nampaknya menolak hukum gravitasi, untuk kegembiraan para pendukung Paradigma Ekonomi Baru. Namun demikian, dalam ekonomi sebagaimana dalam kehidupan sehari-hari, yang naik pada akhirnya pasti akan turun. Cepat atau lambat ketimpangan masif dalam ekonomi AS pasti menimbulkan keprihatinan di antara investor asing yang akan menuntut premi ekstra untuk resiko meninggalkan uang mereka di Amerika. Ini berarti suku bunga yang lebih tinggi.
Sejauh ini Fed mempertahankan rendahnya suku bunga, atau menaikkannya sebanyak seperempat persen, ekuivalen dari kedipan licik bagi spekulator yang menangkap isyarat dengan gembira dan segera membuat Dow Jones naik. Secara pribadi Greenspan dan yang lainnya mestinya sangat kuatir mengenai situasi ini. Mereka tahu bahwa karnaval sekarang ini tidak bisa berlanjut. Jika Fed tidak ingin bertindak, pasar uang internasional akhirnya akan memaksa mereka. Jatuhnya dollar akan membuat konsentrasi pikiran seperti gantungan yang baik dan memaksa mereka menaikkan suku bunga pada tingkat yang berhubungan lebih dekat dengan realitas ekonomi Amerika. Pada titik itu seluruh bangunan yang lemah akan mulai runtuh seperti rumah kartu. Efeknya akan seperti ban yang tertusuk paku.
Para ahli ekonomi yang serius sepakat bahwa bahaya paling besar yang dihadapi Amerika dan ekonomi dunia sekarang adalah krisis deflasi. Hal ini belum terlihat sejak 1930-an–kecuali di Jepang selama lebih dari sepuluh tahun terakhir. Ini adalah bayangan cermin dari krisis inflasi namun terbalik. Ini adalah gerakan spiral menurun di mana harga-harga turun, permintaan turun dan runtuhnya bank yang semuanya ini bersamaan menarik ekonomi ke dalam depresi. Dalam kondisi ini, jatuhnya harga bukan merupakan ekspresi sehatnya ekonomi dengan naiknya produktivitas (seperti, periode lama gerakan naik kapitalis sebelum Perang Dunia Pertama) namun sebaliknya, manifestasi sakit dari kurangnya permintaan dan runtuhnya kepercayaan bisnis dan investasi. Karena kondisi ini, di mana margin laba telah menurun, kenaikan signifikan suku bunga akan mengurangi profitabilitas. Ini akan menggerakkan reaksi berantai dalam ekonomi. Jatuhnya laba menyebabkan jatuhnya harga dalam pasar bursa, yang kemudian bereaksi terhadap pasar keseluruhan. Terpukul oleh jatuhnya harga saham dan naiknya utang, konsumen menunda pengeluaran untuk mengantisipasi jatuhnya harga lebih jauh, dengan demikian memperkecil pasar lebih jauh. Dipenuhi utang, bank menolak meminjamkan lebih banyak uang dan menaikkan suku bunga real pada tingkat yang menghukum, dengan demikian memperkecil tingkat laba lebih jauh. Karena telah melampaui batas-batas alami lewat ekspansi kredit dalam periode sebelumnya, sistem kapitalisme dengan keras dipaksa kembali ke jalurnya. Tanpa prospek yang bisa dilihat, para kapitalis menghentikan investasi. Meningkatnya pengangguran lebih jauh menekan permintaan. Ekonomi mengalami kemerosotan yang dalam.
Para ahli ekonomi borjuis cenderung mengidentifikasi siklus bisnis dengan ekspansi dan kontraksi kredit. Dari sini kecenderungan penyebab eksklusif kemerosotan adalah kenaikan suku bunga. Sebenarnya ini bukan penyebab melainkan gejala. Ini juga berlaku untuk krisis pasar bursa. Walaupun tidak benar bahwa krisis Pasar Bursa –atau manifestasi operasi modal finansial–adalah penyebab krisis kapitalis (penyebab sebenarnya, seperti dijelaskan Marx, adalah overproduksi), krisis finansial tersebut bisa menandai keruntuhan mendadak suatu boom dan memperbesar efek kemerosotan, tergantung sejauh mana pasar telah ditarik melampaui batas-batasnya (oleh spekulasi, modal fiktif, dan ekspansi kredit pada masa gerakan naik). Namun dalam siklus sekarang ini, proses ini telah mencapai dimensi yang belum pernah terdengar. Dan sebagaimana diperingatkan The Economist akhir-akhir ini:
“Semakin lama pesta berlangsung, semakin parah pusing kepala keesokan harinya, karena berbagai ketimpangan, seperti tingkat utang, akan menjadi semakin besar.”
Paralel dengan 1920-an
Berlawanan dengan kepercayaan orang-orang Paradigma Ekonomi Baru, boom sekarang ini jauh dari unik. Dalam boom yang mendahului crah 1929 terjadi periode pertumbuhan cepat dan investasi, yang saat itu didorong oleh teknologi baru dan teknik produksi seperti otomobil dan Fordisme, radio, pesawat terbang dan listrik, yang semuanya membawa produktivitas pada tingkat baru yang belum pernah terjadi sebelumnya. Memang, tujuh tahun hingga 1929 menyaksikan tingkat pertumbuhan lebih tinggi di AS daripada dalam boom sekarang ini, 4,7 persen, dengan pengangguran kurang dari 4 persen dan tidak ada inflasi. Ini juga merupakan periode laba tinggi dan boom pasar bursa, yang semuanya menyebabkan orang percaya bahwa hari-hari baik terus berlangsung. Semua ini berakhir dalam crash terbesar dalam sejarah, yang diikuti oleh depresi besar pada skala dunia. Banyak paralel antara situasi sekarang dengan 1920-an.
Inilah apa yang ditulis oleh John K. Galbraith tentang boom yang mendahului kemerosotan 1929:
“Selama 1920-an produksi dan produktivitas tiap buruh tumbuh dengan stabil; antara 1920 dan 1929, output tiap buruh dalam industri manufaktur naik sebesar empat puluh tiga persen. Upah, gaji dan harga secara komparatif tetap stabil, atau paling tidak mengalami kenaikan yang tidak bisa dibandingkan. Dengan demikian, biaya turun, dan dengan harga yang sama, laba meningkat. Laba ini mempertahankan pengeluaran orang kaya, dan mereka juga memupuk paling tidak beberapa harapan di balik boom pasar bursa. Lebih dari semua itu, mereka mendorong investasi modal pada tingkat yang sangat tinggi. Selama tahun dua puluhan, produksi barang-barang modal meningkat pada tingkat tahunan rata-rata 6,4 per tahun, barang-barang konsumen tidak awet (non-durable), kategori yang termasuk konsumsi massa seperti makanan dan pakaian, meningkat hanya 2,8 persen. (Tingkat kenaikan bagi barang-barang konsumen awet seperti mobil, rumah, perlengkapan rumah dan semacamnya, merepresentasikan pengeluaran orang karya, adalah 5,9 persen). Besar dan meningkatnya investasi dalam barang-barang modal, dengan kata lain, alat utama di mana laba dibelanjakan.” (J.K. Galbraith, The Great Crash, hal 192-3)
Batas-batas boom ini dicapai pada titik ketika permintaan tidak lagi mampu mengikuti produksi. Sebelum landasannya keluar dari pasar bursa, overproduksi sudah mulai tampak di AS:
“Sebagaimana dicatat, indeks aktivitas industrial dan indeks produksi pabrik yang dibuat Federal Reserve, ukuran aktivitas ekonomi bulanan yang paling komprehensif pada saat itu, mencapai puncaknya pada bulan Juni. Indeks tersebut kemudian turun dan terus merosot sepanjang tahun. Titik balik indikator lain, payroll pabrik, bongkar muat, dan penjualan departemen store, muncul belakangan dan pada bulan Oktober sebelum dan setelah trend semua ini turun. Kendati demikian, sebagaimana para ahli ekonomi biasanya menekankan, dan masalahnya punya otoritas tinggi dari Biro Nasional Penelitian Ekonomi, ekonomi telah melemah di musim panas sebelum crash.
“Melemahnya ekonomi ini bisa dijelaskan dengan berbagai cara. Produksi produk industri, untuk saat itu, telah melampaui konsumen dan permintaan investasi untuk produk-produk tersebut. Alasan yang paling mungkin adalah bahwa perhatian bisnis, dalam watak antusiasme dari saat-saat yang baik, keliru menilai prospek peningkatan permintaan dan mendapatkan inventaris lebih besar ketimbang yang mereka butuhkan. Akibatnya mereka memotong pembelian, dan ini menyebabkan pemangkasan produksi. Singkatnya, musim panas 1929 menandai awal resesi inventaris.” (Ibid., hal. 191-2)
Dengan kata lain, adalah krisis overproduksi yang menyebabkan crash pasar bursa. Dan banyak dari ahli strategi kapital yang lebih serius berpendapat bahwa kita sekarang menuju arah yang sama:
“Konsumen telah berada dalam pesta utang dan belanja, dan tabungan rumah tangga menjadi negatif untuk kali pertama sejak 1930-an. Perusahaan-perusahaan juga punya banyak pinjaman. Karena membumbungya impor, defisit neraca berjalan Amerika mencapai rekor 4 persen dari GDP. Pasar properti juga mulai nampak menggelembung namun kosong seperti busa; harga properti tempat tinggal utama di banyak kota besar membumbung tinggi. Terakhir, namun tidak kalah pentingnya, pertumbuhan pasokan uang nampaknya berlebih-lebihan. Semua ini adalah gejala-gejala klasik suatu gelembung.” (The Economist, 25/9/99)
Tingkat siklus yang mana?
Dalam beberapa hal, semua faktor yang disinggung di atas nampak dalam boom di AS, dan bersama-sama menghasilkan spiral naik klasik yang telah lama berlangsung. Namun gerakan ke atas spriral ini sedang mendekati batas-batasnya. Ekonomi AS mulai menunjukkan gejala-gejala klasik “kepanasan.” Pada puncak boom, ketika ekonomi bekerja penuh, para kapitalis tidak mungkin lagi meraih laba besar-besaran sebagaimana sebelumnya. Ada kecenderungan untuk overproduksi, yang memberi tekanan pada harga dan margin laba. Pada saat yang sama, penampilan ketenagakerjaan hampir penuh (di AS mereka mengeluh mengenai kurangnya tenaga kerja pada beberapa bidang utama ekonomi) kekuatan tawar menawar pekerja meningkat dan upah cenderung naik. Karena itu, setiap penurunan pengangguran di Amerika dihadapi dengan wajah muram pasar bursa. Bagi pekerja Amerika ini jelas berarti bahwa apa yang baik bagi buruh adalah buruk bagi para kapitalis dan hiu-hiu pasar bursa!
Satu-satunya cara memperpanjang boom adalah lewat peningkatan substansial produktivitas. Namun ini bukanlah pilihan realistik. Peningkatan produktivitas telah dilakukan pada periode sebelumnya dengan tekanan keras pada otot dan sistem syaraf para buruh, pemecatan, perampingan, memaksa lebih sedikit buruh untuk melakukan pekerjaan yang dilakukan oleh buruh dengan jumlah lebih banyak. Namun ini telah mencapai batas-batasnya. Mereka telah melakukan hal ini terlalu jauh dan memprovokasi pukulan balik di mana-mana. Karena itu tidak mungkin bagi para pengusaha untuk meningkatkan margin laba dengan cara-cara seperti itu pada periode berikutnya.
Pengangguran di AS mencapai titik terendah selama 30 tahun. Kendati demikian, fakta ini tidak mempertimbangkan banyaknya orang yang bekerja paruh waktu, yang banyak terdapat dalam sektor teknologi informasi. Para pekerja ini tidak punya banyak hak dan bisa segera dipecat pada awal kesulitan ekonomi. Ini berarti bahwa dalam resesi berikutnya, pengangguran di AS akan membumbung tinggi dengan cepat. Namun pada tahap ini, ekonomi nampaknya bekerja penuh, dan tidak menunjukkan tanda-tanda menurun. Selama tiga tahun terakhir GDP AS rata-rata mencapai 4 persen per tahun. Produktivitas non pertanian telah meningkat sebanyak dua persen setahun dalam periode yang sama, sementara harga (kecuali dalam Pasar Bursa dan pasar properti) tetap rendah.
Semua ini digunakan sebagai justifikasi bagi Paradigma Ekonomi Baru. Namun sebenarnya alasan mengapa harga dipertahankan tetap rendah di AS bukanlah hal baru, sebagaimana telah kita lihat. Tidak perlu penjelasan atau paradigma baru untuk menjelaskannya. Ini berhubungan dengan faktor-faktor klasik yang ada dalam setiap siklus. Selain itu, gejala-gejala yang bisa diamati menunjukkan bahwa siklus sekarang ini telah mencapai batas-batasnya dan mendekati akhirnya. Kenyataannya, ketenagakerjaan yang penuh (atau hampir penuh), tingkat pertumbuhan yang tinggi dan boom pasar bursa –dan juga overproduksi– adalah hal yang akan diharapkan dilihat di puncak, tepat sebelum keruntuhan.
“Kendati demikian,” tulis The Economist, “jelas bahwa pasar tenaga kerja lebih ketat dari sebelumnya dan berada pada track yang tidak bisa berkesinambungan. Lebih dari 300.000 pekerjaan diciptakan pda bulan Juli, jauh lebih banyak dari yang diharapkan oleh sebagian besar analis dan tiga kali lipat lebih besar dari pertumbuhan tenaga kerja yang biasanya bisa berkelanjutan. Jumlah klaim pengangguran berada pada titik paling rendah dalam siklus ekonomi ini, dan setiap distrik Federal Reserve mencatat kekurangan tenaga kerja yang meluas.” (The Economist, 21/8/99)
Dalam periode belakangan ini, ketakutan utama para ahli ekonomi kapitalis adalah deflasi utang, yaitu spiral menurun jatuhnya harga-harga asset, naiknya utang pada rasio asset, penjualan asset terpaksa, kenaikan utang, dan jatuhnya pinjaman bank. Semua ini adalah gejala klasik kemerosotan di masa lalu, yang diperburuk oleh tindakan spekulasi berlebih-lebihan, sebagaimana telah kita jelaskan. Semua ini adalah bahaya yang kini dihadapi AS–dan ekonomi dunia. Semua faktor yang mendorong ke atas pada titik tertentu akan berbalik arah. Dan titik ini mungkin tidak terlalu jauh. Setahun lalu raja spekulator George Soros memperingatkan akan bahaya crash dalam pasar uang dunia yang bisa menunjukkan ancaman mematikan bagi kapitalisme. Kini suara-suara yang lain melantunkan tema yang sama. Tidak hanya Keynesian kolot J.K. Galbraith memperingatkan tentang 1929 lain, tetapi bapak monetarisme, Milton Friedman, mengatakan hal yang sama persis. Dengan demikian, para representatif serius Modal–dengan sedikit tertunda–sampai pada kesimpulan yang sama seperti kaum Marxis.
Jelas tidak mungkin untuk bisa tepat soal waktu siklus. Menuntut ketepatan waktu siklus berarti tidak memahami watak prediksi ekonomi. Jauh hari Engels sudah menunjukkan bahwa ekonomi bukanlah ilmu pasti karena, salah satu alasannya, lambannya statistik berarti bahwa gambaran kita tentang ekonomi selalu ketinggalan jaman. Hal sama baru-baru ini disampaikan oleh The Economist: “Mereka (para bankir sentral) bekerja di dunia yang penuh ketidakpastian tanpa peta dan kompas yang bisa diandalkan. Karena kesenjangan publikasi statistik, mereka tidak tahu persis kemana seharusnya arah ekonomi, apalagi sedang ke arah mana ekonomi sekarang ini.” (The Economist 23/9/99) Karena itu semua prediksi ekonomi mempunyai watak kondisional. Tidak mungkin memastikan dengan tepat waktu peristiwa-peristiwa. Panjangnya waktu siklus sekarang ini telah diulur dengan cara yang paling mengejutkan. Namun proses-proses di balik ini bisa dijelaskan dan dipahami, dan akibat dari situasi sekarang ini bisa ditentukan dengan tingkat kepastian yang masuk akal.
Samuel Brittan dari the Financial Times berargumen bahwa krisis Pasar Bursa sekitar peralihan abad bisa mengakibatkan lebih banyak kerusakan daripada crash Wall Street 1929. Dalam sebuah artikel yang muncul dalam the Financial Times 22 Juli 1999, dengan judul “Bubbles do burst,” dia menulis:
“Beberapa komentator dan pembuat kebijakan salah arah karena tidak adanya tekanan inflasioner dalam pasar barang dan jasa. Namun tanda-tanda tipuan ini sering terlihat dalam gelembung-gelembung di masa lalu.” Dan kemudian dia mengutip Stephen King, kepala ahli ekonomi di HSBC, yang tidak hanya yakin bahwa crash tidak terhindarkan, namun juga berusaha menunjukkan bagaimana crash tersebut terjadi:
“Sebagian besar gelembung mengembang dalam periode pertumbuhan di atas rata-rata dan di bawah inflasi rata-rata,” tulis dia. “Tekanan inflasioner sering disamarkan oleh turnnya harga-harga komoditi global atau nilai tukar yang kuat yang menekan tekanan inflasioner untuk sementara.” Selain itu selama boom, pertumbuhan pasokan uang yang cepat secara langsung menghasilkan output lebih tinggi atau harga-harga asset yang lebih tinggi, dan kaitan antara uang dan inflasi untuk sementara putus. Brittan melanjutkan: “Menurut Ekonomi HSBC, kekuatan yang paling mungkin meletuskan gelembung itu adalah kombinasi kenaikan suku bunga lebih lanjut, apapun kata Greenspan sekarang, dan jatuhnya dollar, yang keduanya diharapkan pada paruh kedua tahun ini dan paruh pertama tahun 2000. Ini akan menghasilkan perlambatan pertumbuhan tahun ini dan resiko resesi tahun 2001.”
Ketepatan waktunya mungkin keliru. Namun logika argumen tersebut tidak salah. Para ahli ekonomi serius tidak mengharapkan boom sekarang ini berlangsung lebih lama, dan mereka takut bahwa efek-efek kemerosotannya akan keras. Argumen bahwa ekonomi bisa menghindari efek-efek crash pasar bursa (berdasarkan pengalaman 1987) tidak mempunyai landasan yang kuat. HSBC menunjukkan bahwa ada perbedaan yang besar antara situasi sekarang dan saat itu:
“Dua belas tahun yang lalu tidak banyak bukti neraca sektor swasta yang direntang berlebihan dan sedikit alasan untuk takut akan kontraksi ganda dalam penguluaran sektor swasta sebagai akibat jatuhnya harga bursa. Namun demikian, kini tingkat pengeluaran yang tinggi didukung oleh kenaikan harga asset dan koreksi ekuitas yang dipertahankan memungkinkan untuk menimbulkan efek-efek yang lebih besar pada ekonomi AS.”
Boom sekarang ini bisa berlanjut untuk satu atau dua tahun lebih lama, atau bisa jatuh dalam beberapa minggu. Tidaklah mungkin untuk bisa tepat. Namun semuanya tampak menunjukkan bahwa ketika waktunya tiba akan keras.
Marx benar!
Apa yang mengejutkan dari situasi dunia sekarang ini adalah ramalan Marx tentang kapitalisme yang pada tingkat tertentu ketepatannya sangat menakjubkan. Dalam halaman-halaman Capital kita membaca bagaimana salah satu cara utama yang digunakan para kapitalis untuk mengatasi (sementara) kontradiksi sistem mereka adalah lewat pembangunan perdagangan dunia. Inilah makna globalisasi: intensifikasi pembagian kerja internasional, dalam periode terakhir. Namun, sebagaimana juga telah dijelaskan Marx, pada akhirnya ini hanya mereproduksi kontradiksi pada skala yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Kebenaran prediksi tersebut akan segera ditunjukkan seperti dalam laboratorium.
Selain itu, boom sekarang ini dibarengi dengan tingkat pengangguran di sebagian besar negeri kapitalis maju yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah. Tingkat pengangguran resmi OECD (yang secara kasar memandang rendah tingkat pengangguran sesungguhnya) berkisar sekitar 30 juta. Ini terjadi di tengah-tengah boom! Tetap tingginya tingkat pengangguran dalam suatu boom belum pernah terjadi sebelumnya. Ini bukan pengangguran musiman. Bahkan bukan tentara cadangan pengangguran yang dibicarakan Marx. Ini pengangguran permanen, organik, yang tidak kelihatan turun dalam periode pemulihan. Ini adalah luka beracun yang menggerogoti organ-organ penting dalam sistem. Pada skala dunia, menurut PBB, tingkat pengangguran tidak kurang dari 1.000 juta. Angka-angka ini sendiri merupakan kutukan bagi kapitalisme. Dan angka-angka tersebut adalah yang terbaik yang ditawarkan oleh sistem. Apa yang terjadi bila pada saat kemerosotan?
Benar bahwa di AS (bahkan membiarkan manipulasi angka), pengangguran saat ini relatif rendah. Namun kita harus mempertimbangkan watak dari “kesempatan kerja” ini, yang terdiri sebagian besar kerja upah rendah, kerja biasa dengan sedikit hak, jika memang ada haknya. Pekerjaan semacam ini bisa dan akan menghilang semalam jika terjadi kemerosotan. Ini tidak hanya persoalan ekonomi, namun mempunyai implikasi sosial dan politik yang besar. Lenin pernah mengatakan bahwa politik adalah ekonomi yang terpusat. Kemerosotan di Asia telah menunjukkan dirinya dalam awal revolusi di Indonesia, krisis besar dalam rezim di Malaysia dan kebangkitan masif perjuangan kelas di Korea Selatan. Kita akan melihat apa konsekuensi ini semua di Cina, raksasa yang tidur, yang ada di ambang perkembangan revolusioner yang bisa menggoncang dunia.
Ketika kita melihat Amerika Latin, kita melihat runtuhnya boom telah menciptakan situasi di mana perkembangan eksplosif sedang disiapkan di satu negeri setelah yang lain. Sebagian besar Amerika Latin berada dalam resesi parah. Ekuador baru-baru ini mengumumkan bahwa dia tidak mampu membayar Brady Bonds (suatu perangkat yang dimaksudkan untuk membantu negara-negara Amerika Latin membyar utangnya dari krisis terakhir 1980-an). Ekuador adalah negara pertama yang melakukan hal ini –walaupun mungkin bukan yang terakhir. Ekonominya menciut sebesar tujuh persen tahun ini, dan akibatnya adalah gelombang pemogokan, pemogokan umum dan unjuk rasa yang belum pernah terjadi sebelumnya yang menggoncang negara hingga ke fondasinya. Venezuela–negeri penghasil minyak, seperti Ekuador–berada dalam krisis parah. Kendatipun faktanya harga minyak naik tajam dalam beberapa bulan terakhir, ekonomi Venezuela jatuh sebesar 6 persen di tahun 1999. Rezim di Colombia ada di ambang kebangkrutan, dengan akibat luasnya terhadap benua ini, sedangkan yang disebut revolusi Chavez di Venezuela menyebabkan keprihatinan mendalam di Washington. Kemerosotan di AS akan mengakibatkan kekacauan di Amerika Latin, menempatkan perkembangan revolusioner sebagai keharusan di mana-mana.
Afrika dalam keadaan kacau, dengan perang dan perang saudara yang merusak sebagian besar benua ini. Kebijakan pasar bebas, yang jauh dari penyelesaian masalah, telah melemparkannya ke dalam kekacauan dan melahirkan hantu barbarisme. Di Timur Tengah tidak ada satu pun rezim borjuis stabil yang nampak. Serangan bom mematikan atas Iraq oleh imperialisme AS dimaksudkan sebagai peringatan bagi bangsa-bangsa Timur Tengah dan dunia bekas jajahan pada umumnya untuk tidak menentang kapitalisme dan imperialisme. Namun semua bom dan peluru kendali di dunia tidak mampu menghentikan gerakan revolusioner bangsa-bangsa bagi pembebasan mereka. Gerakan mahasiswa yang dahsyat di Iran setelah 20 tahun kediktatoran Mullah memberi tahu dunia bahwa revolusi sedang bergolak di negeri itu, dan tidak hanya di sana. Perpecahan dalam keluarga kerajaan di Saudi Arabia dan negara-negara Arab lainnya adalah gejala krisis mendalam, berkaitan dengan gerakan gejolak harga minyak di pasar dunia.
Kemerosotan di Asia memakan waktu hampir setahun untuk menunjukkan dirinya dalam kebangkrutan Rusia bulan Agustus 1998, namun akhirnya tiba. Dan hasil-hasil yang menakjubkan! Gerakan para buruh tambang dan seksi lain kelas pekerja Rusia adalah untuk mengingatkan bahwa proletariat Rusia kembali berjuang. Stabilisasi yang nampak di Rusia menipu orang untuk berpikir bahwa krisis sudah segera meletus menjadi rangkaian krisis pemerintahan, serangan bom dan perang baru di Chechnya. Tidak akan lama lagi sebelum Rusia dihadapkan pada kebangkrutan ekonomi yang baru yang menempatkan seluruh persoalan rezim sebagai keharusan. Sebagaimana di Cina, demikian juga di Rusia, pasar telah menunjukkan kebangkrutannya. Masalahnya bukan apakah perkembangan revolusioner akan terjadi, namun tinggal kapan.
Efek-efek sosial crash
Sebagaimana baru-baru ini The Economist memperingatkan, “resiko paling besar bagi ekonomi dunia kini adalah Wall Street.” Sekali gelembung spekulatif ini meletus dan seluruh bangunan yang tidak kokoh akan hancur di sekeliling telinga mereka, gaung psikologis, terutama di AS, akan besar sekali. Akan ada reaksi yang sangat besar terhadap pasar dan seluruh kerjanya. Kekerasan reaksi ini akan sebanding dengan besarnya ilusi yang dihasilkan dalam periode sebelumnya. Efek-efek tersebut akan membuat diri mereka terasa lebih tajam di AS daripada di tempat lain. Setelah beberapa dekade mengalami jatuhnya standar hidup, perampingan dan ketimpangan gila-gilaan, Impian Amerika ada dalam kehancurannya. Ada kekecewaan meluas dan mempertanyakan keberadaan masyarakat yang didirikan di atas landasan yang busuk. Perasaan umum malaise dan keterasingan ditunjukkan dengan rendahnya partisipasi dalam pemilu dan kepercayaan (sangat berdasar) bahwa orang-orang di atas tidak perduli akan orang-orang kecil.
Sebagaimana telah kita tunjukkan, periode sekarang ini telah menyaksikan peningkatan besar-besaran konsentrasi modal, yaitu peningkatan besar-besaran dalam kekayaan dan kekuasaan sekelompok minoritas pada satu ekstrem dan peningkatan yang sama besarnya dalam kemiskinan, kesengsaraan, degradasi dan penyakit pada ekstrem yang lainnya. Trend ini, yang diramalkan Marx dan ditentang keras oleh para ahli sosiologi borjuis selama puluhan tahun, kini menjadi fakta mengerikan yang tidak bisa ditolak. Kekayaan menakjubkan didapat dari eksploitasi kelas buruh.
Rasa keterasingan ini tercermin dalam beberapa insiden kecil yang mempunyai signifikansi simptomatik besar. Ketika pada akhir cerita film Titanic, beberapa orang jahat kaya tenggelam, ada sorak sorai dan kegembiraan dalam gedung bioskop di seluruh AS. Reaksi ini dikomentari oleh para pengamat borjuis yang kuatir karena hal tersebut. Sikap seperti itu terhadap orang kaya dan sukses tidak seharusnya terjadi di Amerika! Lagipula, tidakkah boom pasar bursa menawarkan harapan akan perbaikan dan kekayaan bagi semua orang? Namun insiden tersebut, yang kelihatannya kecil dan tidak penting, menunjukkan kecemasan dan pertanyaan tentang watak dan nilai-nilai kapitalisme Amerika, jurang yang melebar antara yang kaya dan yang miskin, khususnya di antara kaum muda, yang mewakili ancaman mematikan bagi sistem kapitalis di masa depan. Jika sikap tersebut adalah suasana hati saat kini, seperti apa situasinya bila kemerosotan ekonomi terjadi? Pikiran seperti ini pasti membuat para wakil Modal tidak bisa tidur nyenyak di malam hari.
Kemerosotan juga akan menimbulkan dampak yang serius di Eropa, menempatkan euro dalam tarikan yang tidak bisa ditolerir. Sebagaimana kita prediksi sebelumnya, sudah jelas bahwa introduksi euro akan meningkatkan kontradiksi antar berbagai ekonomi Eropa. Atas basis kapitalis, tidak mungkin untuk mempersatukan Eropa, karena tidak mungkin mencapai konvergensi antar ekonomi-ekonomi yang menarik ke berbagai arah. Jerman, ekonomi paling kuat di Eropa, sedang dalam kekacauan. Dengan empat juta pengangguran pertama kali sejak Hitler, tidak ada tanda-tanda akan membaik. Enam institut ekonomi telah memangkas ramalan pertumbuhan tahun ini dari 2,3 persen menjadi hanya 1,7 persen. Namun kelemahan euro tidak memungkinkan menurunkan suku bunga. Masalah-masalah ekonomi kapitalis yang lebih lemah bahkan lebih keras. Di masa lalu Italia pasti akan melakukan devaluasi dan menaikkan pengeluaran publik untuk keluar dari kesulitan. Kini mereka terkunci dalam sistem kaku yang mungkin tidak akan bertahan melewati resesi keras. Dalam suatu krisis semua antagonisme nasional lama akan muncul kembali dengan kekuatannya lebih besar dua kali lipat.
Akan ada gejolak dari negara yang satu ke negara yang lain. Cepat atau lambat ini pasti akan tercermin dalam oragnisasi massa kelas pekerja. Pemimpin buruh sayap kanan seperti Blair dan Schroeder yang sedemikian bergairahnya memeluk pasar bebas dan semua kerjanya akan dikutuk. Akan terjadi oposisi besar-besaran terhadap kebijakan-kebijakan kolaborasi kelas yang diambil oleh para pemimpin Buruh. Setelah sekian lama organisasi Buruh bergoyang ke kanan, yang mencerminkan tekanan kapitalisme, akan ada ayunan besar ke kiri di mana-mana, yang akan membuka peluang besar bagi tendensi Marxis.
Jadi, pada fajar milenium baru, kita dihadapkan pada perspektif revolusi dunia yang pertama kali dalam sejarah umat manusia. Revolusi 1848 yang ditulis Marx dan Engels dalam realitasnya terbatas di Eropa. Bahkan gelombang revolusioner sesudah revolusi Rusia periode 1917-21, dan yang mempunyai gaung penting di Persia, China, Turki, India dan Mesir, adalah fenomena Eropa. Namun kini semuanya berbeda. Penciptaan ekonomi dunia yang tunggal, saling tergantung, dan penguatan kelas pekerja sebagai akibat dari perkembangan industri di setiap bagian dunia, untuk pertama kalinya menciptakan kondisi obyektif bagi revolusi sosialis dunia. Yang diperlukan adalah satu kemenangan utama kelas pekerja di salah satu negeri kunci, dan perspektif transformasi masyarakat sosialis akan ditempatkan dalam agenda di satu negeri dan benua satu demi satu.
Dalam jangka lima atau sepuluh tahun mendatang, persoalan kekuasaan akan dihadapkan dalam satu negeri atau yang lain. Pemecahan persoalan ini akan menentukan masa depan umat manusia.
Oleh Alan Woods dan Ted Grant
London, 14 Oktober 1999.
________________________________________
catatan :
The Federal Reserve adalah Bank Sentral Amerika Serikat. Greenspan adalah induk darinya
OECD (Organisation for Economic Cooperation and Development) sebuah think-tank internasional dari negeri-negeri kapitalis terkaya di dunia. Pendukung kebijakan ekonomi ultra-liberal. Tidak memiliki kekuatan untuk terlalu mempengaruhi atau mengubah kebijakan ekonomi negeri-negeri tersebut.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: