PRODUKSI NILAI-LEBIH ABSOLUT DAN RELATIF


BAGIAN 5
PRODUKSI NILAI-LEBIH ABSOLUT DAN RELATIF

Setiap bagian terdahulu, masing-masingnya mewakili kemajuan dari karya Marx ini. Tapi bagian 5 adalah semacam istirahat. Dibagian ini ia menghimpun benang-benang pikirannya dan meyelesaikan sejumlah pikirannnya yang belum di bahas sewajarnya di bagian-bagian terdahulu.

BAB 16
NILAI LEBIH ABSOLUT dan RELATIF

Pada bab 7, kerja produktif di nyatakan sebagaoi kerja yang menghasilkan nilai-lebih . Setiap orang yang melakukan sesuatu fungsi yang di perlukan dalam prduksi adalah bagian dari ‘pekerja kolektif’ dan bersifat produktif. Walaupun, tidak dapat di identifikasikan nilai pakai apa yang dihasilkan orang-orang secara individual. Di fihak lain , seorang pekerja hanyalah produktif bagi kapital , manakala ia penghasil nilai-lebih. Contoh ini menunjukan bahwa Marx tidak mendefinisi hanya produksi materiil yang dianggap sebagai kerja produktif, walau bagi Adam Smith begitu. Tidak jelas mengapa Marx mendefinisikan kerjanproduktif dengan yang tidak produktif. Istilah yang kemudian banyak di pergunakan.

Ia kemudian menerangkan bahwa nilai-lebih absolut dan relatif hanya dapat di perbedakan jika kita memperhatikan perubahan pada rate nilai-lebih. Topik selanjutnya adalah mengenai dasar alamiah bagi nilai lebih. Nilai-lebih tidak akan ada , manakalah kondisi alam sedemikian rupa, sehingga para pekerja hanya memproduksi tidak lebih dari apa yang mereka butuhkan untuk panyambung kehidupan mereka. Kondisi alam yang menguntungkan tidak perlu mendorong adanya eksploitasisama sekali. Selanjutnya ia membantah teori Ricardo dan Mill, karena kedua-duanya mangacaukan saja produksi nilai-pakai dan nilai -lebih . yang karena itu mereka mereka mengabaikan adanya hubungan-hubungan sosial yang spesifik sebagai watak dari kapitalisme.

BAB 17

PERUBAHAN BESARNYA HARGA TENAGA KERJA dan BESARNYA NILAI LEBIH.

Demi penyempurnaan analisanya, Marx mengemukakan tiga variabel.
Pertama, panjangnya hariu kerja, kedua, intensitas kerja dan ketiga, sifat produktif dari kerja. Suatu peningkatan pada produktifitas kerja, menimbulkan pengurangan nilaitenaga kerja dan peningkatan pada rate nilai lebih (absolut) . Kata Marx, akibat-akibat dari perubahan yang simultan pada dua atau tiga variabel ini, dengan mudah dapat di hitung.

BAB 18

BARBAGAI RUMUSAN UNTUK RATE NILAI LEBIH.

Isi Bab ini sudah terlihat pada judulnya ia tidak mengemukakan hal yang baru.Analisa Marx mengenai nilai-lebih berdasar pada perbedaan antara kerja dan tenaga kerjanya. Apa yang di peroleh kapitalis dari pekerja adalah nilai-ciptaan kerja. Dalam kehidupan sehari-hari, tidak ada orang membeda-bedakan hal itu dan pekerja menerima upah menurut tarif jam-jaman atau berdasar pada potongan kerja yang ia kerjakan . Marcx harus memperhitungkan, karena itu ia tidak mengalami kesukaran.

BAGIAN 6

UPAH

BAB 19.

TRANSFORMASI NILAI-TENAGA KERJA KE DALAM UPAH

Para ekonom di zaman Marx telah memperlakukan upah sebagai nilai-kerja. Karena nilai di dalam pemikiran Marx di ciptakan oleh kerja, ia tahu menganggap bahwa’nilai kerja’ sebagai sesuatu yang absurd. Kalau memang pekerja di upah untuk kerjanya, atau karena nilai yang ia ciptakan, maka ia harus di upah secara penuh dan tidak menyisahkan nilai-lebih. Jika tidak denikian , ia di upah kurang dari nilai yang ia ciptakan, sesuatu hal yang akan memperkosa prinsip ‘nilai di tukar nilai’ . Jika tidak cara demikian, menjadi tidak mungkin untuk menjelaskan kapitalisme berdasarkan pertukaran dri nilai-nilai yang sama. Marx memutar-mutar masalah upah ini dengan tujuan membuat perbedaan-perbedaan yang tajam antara nilai-nilai tenaga kerja yang di jual si pekerja dengan nilai yang ia ciptakan. Sementara para ekonom klasik bertolak dari dan hasil yang benar tanbpa membuat pembedaan. Mereka berbuat begitu melalui penyelidikan terhadap tenaga kerja dan lalu menamakannya nilai kerja.

Menurut Marx, permintaan dan persediaan tak dapat di pergunakan untukmenerangkan hal-ihwal upah, karena ia hanya dapat menjelaskan masalahj penyimpangan dari harga yang ‘normal’ dan ‘keharusan’. Para ekonom modern akan menutup mata terhadap pernyataan di atas. Masalahnya disini ialah ‘permintaan’ dan ‘persediaan’ yang di gambarkan di zamannya Marx sebagai penyimpangan-penyimpangan dari penjualan dan hasil yang normal. Dengan demikian ia tidak dapat di pakai untuk menjelaskan keadaan-keadaan yang ‘normal’. Di dalam texbook modern, permintaan dan persediaan itu dapat di pakai sebagai analisa harga dan tidak perlu tidak sesuai dengan analisa Marx.

Upah kata Marx , hanyalah bentuk yang di buat untuk membayar tenaga kerja. Upah jam-jaman adalah nilai (atau, tegasnya, harga) dari tenaga kerja sehari di bagi dengan jumlah jam kerja normal per hari. Ia sama dengan seperti harga seekor kuda di tentukan melalui harga kaki kuda. laLu di kalikan dengan empat. Dan terdapatlah harga kuda seekor itu. Harga dari kekuatan-kerja di tentukan, normalnya, sekian perjam.

Tidaklah berarti bahwa setiap orang mencoba bohong dengan cara ini. Di dlam masyarakat penhasil komoditi, tidak perlu mengkalkulasi nilai kekuatan-kerja atau komoditi lainnya. Para penjual mencari harga pasar yang paling tinggi yang dapat di pikul pasar. Sementara pembeli mencari harga termurah yang di setujui. Harga adalah hasil tawar-menawar spontan. Bagaimana harga paar bersangkutan dengan nilai belum akan dijelaskan. (lihat jilid Tiga, Bagian dua). Di sini Marx menganggap bahwa harga-harga itu sesuai dengan nilai-nilai.

BAB 20.

UPAH MENURUT WAKTU

Penetapan upah menurut waktu telah di jelaskan. Upah jam-jaman adalah upah sehari kerja di bagi dengan jumlah jam kerja perhari kerja. Perpanjangan kerja yang biasa, berarti pengurangan upah per jamnya. Harga (upah) sesungguhnya dapat berselisih dengan nilai dari kekuatan-kerja.

BAB 21

UPAH menurut POTONGAN

Upah sering juga di bayar menurut potongan yang di hasilkan dalam sejamnya. Ini memberi kesan bahwa pekerja menjual produk yang ia hasilkan, yang sebenarnya tidak demikian. Produk itu bukan ia punya. Ia hanya mendapatkan upah sesuai dengan nilai tenaga kerjanya. Tidak menurut nilai produk itu. Upah normal untuk satu potong adalah nilai sehari tenaga kerja di bagi dengan jumlah potongan yang di hasilkan dalam kondisi rata-rata lamanya kerja harian. Kerja-potongan mengurangi, sebenarnya meniadakan, kebutuhan untuk super inten dan (pengawas). Karena itu cocok untuk industri domestik dan kerja yang di subkontrakan. Ia membantu meningkatkan intensitas kerja. Suatu bentuk harmonisdari cara produksi kapitalis ( hal.556)

BAB 22

PERBEDAAN UPAH ditingkat NASIONAL

Analisa Marx terhadap faktor-faktor yang jadi penyebab perubahan-perubahan rate nilai-lebih dapat juga di pakai untuk mengusut perbedaan upah antar negeri atau bangsa. Dalam suatu negara, nilai produk di tentukan oleh kerja yang di butuhkan untuk produksi, dengan taraf rata-rata intensitas produktifitas. Kerja yang lebih intens atau produktif, menghasilkan lebih banyak nilai. Dalam skala dunia, negeri yang produktifitasnya secara normal, reltif lebih tinggi dari negeri lainnya, akan menghasilkan lebih banyak nilai kebanding negeri lainnya.

Marx menyatakan bahwa produktifitas dan intensitas kerja menanjak begitu kapital berkembang. Jadi kerja satu jam akan menciptakan lebih banyak nilai di suatu negeri yang maju di bandingkan dengan negeri yang kurang maju. Ini tampaknya bertentangan dengan anggapan bahwa nilai-nilai komoditi akan jatuh, di makan waktudan bukan oleh meningkatnya kerja satu jam yang menciptakan nilai lebih banyak . Masalahnya disini ialah, barang-barang yang di produksi oleh negeri maju dan kurang maju akan di jual di pasar dunia pada waktu yang bersamaan. Di sinilah, nilai ditukar dengan nilai di pasar dunia dan pertukaran itu tidak sama. Manakala produk satu jam kerja sesuatu negeri tidak di pertukarkan dengan jumlah nilai yang sama, beberpa orang Marxis modern melihat maslah lain. 5

Jadi upah mungkin saja (baik uang maupun daya-belinya) lebih tinggidi negeri-negeri yang lebih maju berbanding yang kurang maju. Juga rate nilai-lebihnya mungkin lebih tinggi. Kecuali pada keadaan salah urat dari nilai-nilai internasional. Dan ini adalah suatu terapansederhana dari teori nilai-lebih relatif. Pada situasi demikian, implikasinya kadang-kadang malah dapat dan pada umumnya terjadi upah menaik, begitu kapitalisme itu maju. Hal, yang tidak sesuai dengan banyak pemberi komentar atas teori-teori Marx.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: